mellow, orisinilDecember 21, 2005 1:43 pm

Aku adalah matahari. Ya, matahari yang selalu bersinar separuh hari. Aku datang dengan perlahan-lahan., membangunkan bumi yang sedang terlelap, untuk segera memulai aktivitasnya. Aku tak perduli, walau manusia tetap tertidur, atau mencaci-maki dengan sejuta kata tak bermakna.

Aku memang angkuh, karena aku tak dilahirkan untuk berperasaan. Aku punya tugas yang harus kujalani, setiap hari, selangakh dengan perjalanan waktu. Aku bercahaya, mengusir kegelapan yang menggurita. Aku cinta pada alam semesta. Aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku tak marah walau harus tersaput awan gelap yang menurunkan hujan. Aku tahu manusia selalu mengucapkan sumpah-serapah saat aku ada, namun memuja-muja saat aku harus ada.

Aku adalah bulan. Bulan yang tak selalu datang dalam tiap malam. Dan kau pun mengerti, raut wajahku tak selalu sama. Namun tetap saja, aku harus selalu tersenyum dalam tiap suasana, walau ingin aku menangis sekali saja bila melihat alam semesta tak seindah dulu. Aku harus hidup oleh cajaya yang lain, jika tidak aku tak mampu menjadi penerang jalan dalam hutan tak terjamah, penhibur dalam tiap insane yang merindukanku. Aku selalu bersenandung, tak perduli dalam keheningan maupun kebisingan. Aku cinta malam-malamku…

Aku adalah bintang. Tak seperti bulan, aku punya kerlap-kerlip cinta yang brcahaya dalam segala suasana, walau kadang tak terjamah dalam hati manusia. Walau cahayaku lemah, aku tetap berusaha hadir bila malam terang. Aku cinta keberadaanku untuk menjadi teman bagi bulan di tiap malam.

Aku adalah angin. Aku terbang dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah di tiap sudut, di tiap jengkal bumi ini. Aku bisa lembut nan syahdu,menyanyikan lagu-lagu manis penghibur hati, penghilang gundah gulana tiap jiwa. Namun bila aku marah, aku dating sebagai pembawa kehancuran. Akan kupatahkan tiap ranting, kucabut akar dari bumi, kuterbangkan semua yang kulalui dan merusaknya. Aku menangis karena kucinta semua dan harus kuhancurkan.

Aku adalah awan. Kadangkala berwarna seputih kapas kala cerah suasana hatiku, dan kelabu pekat warnaku bila aku sudah tak sanggup lagi tersenyum. Akan kutebarkan panah-panah petirku dan menancapkannya hingga serasa terbelah bumi ini. ,atahari pun tak akan sanggup mengalahkanku. Namun aku pasti akan kembali mejadi awan seputih salju, yang merayap dan melindungi tiap jengkal dari bumi yang kucinta ini.

Mereka menyebutku salju. Turun dari langit, putih dan lembut namun membekukan apa saja. Sesederhana warnaku, tak pernah aku angkuh ketika harus turun ke bumi dan meleleh menjadi genangan air kembali. Senyum dan tawa mereka yang hadir tatkala aku turun ke bumi adalah rona keindahan yang terpancar menyucikan hati. Kuncup bunga snowdrop pun mekar, layaknya permata dalam hamparan bunga. Sungguh kucinta hadirku dalam melukis senyum tulus di bibir mereka.

Saat aku mengunjungi bumi ini, akupun terjun dan meresap di dalamnya. Kata mereka, aku ini air hujan. Ada yang memujiku dan ada yang mencaciku. Aku tak perduli, karena aku hadir bukan karena kemauanku sendiri. Namun sesungguhnya seperti yang lain, aku mencintai bumi sebagai tempat pendaratanku sebelum kembali menjadi hujan lagi.

Sebut aku bumi. Aku adalah ibu dari kehidupan semua makhluk. Aku mencintai anak-anakku seperti aku mencintai diriku sendiri. Kusapih mereka dengan penuh kasih sayang hingga alam tetap terjaga. Walau harus menangis karena kian lama anak-anakku memusuhiku, menghancurkan apa yang telah kuberikan kepadanya, membunuhku secara perlahan-lahan. Namun aku adalah ibu dari semua makhluk, yang selalu mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati walau tak berbalas. Karena diriku mereka bisa hidup, bisa berpijak dan menjalani kehidupannya seiring roda waktu bergulir…

Dan aku adalah jiwa yang tersesat, terperangkap dalam ruang hampa, hanya sanggung terbang, menyaksikan bumi menangis kala angin, hujan, manusia dan semua anaknya tak lagi mencintai dengan sepenuh hati. Aku hanya menunggu dan menunggu, sampai semua anak bumi tak lagi membunuh ibunya sendiri, nmun membalas semua kasih sayang tanpa pamrih bagi tempat mereka mampu berjalan dan menjalani kehidupannya…

Aku jiwa yang melayang bagai peri hutan belantara, yang hanya sanggup berdo’a, cinta sejati akan selalu hadir di hati siapapun, walau hanya setetes harapan yang ada, karena dengan cinta, kita bisa merubah segalanya…

mellow, orisinil 1:14 pm

Aku adalah matahari. Ya, matahari yang selalu bersinar separuh hari. Aku datang dengan perlahan-lahan., membangunkan bumi yang sedang terlelap, untuk segera memulai aktivitasnya. Aku tak perduli, walau manusia tetap tertidur, atau mencaci-maki dengan sejuta kata tak bermakna.

Aku memang angkuh, karena aku tak dilahirkan untuk berperasaan. Aku punya tugas yang harus kujalani, setiap hari, selangakh dengan perjalanan waktu. Aku bercahaya, mengusir kegelapan yang menggurita. Aku cinta pada alam semesta. Aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku tak marah walau harus tersaput awan gelap yang menurunkan hujan. Aku tahu manusia selalu mengucapkan sumpah-serapah saat aku ada, namun memuja-muja saat aku harus ada.

Aku adalah bulan. Bulan yang tak selalu datang dalam tiap malam. Dan kau pun mengerti, raut wajahku tak selalu sama. Namun tetap saja, aku harus selalu tersenyum dalam tiap suasana, walau ingin aku menangis sekali saja bila melihat alam semesta tak seindah dulu. Aku harus hidup oleh cajaya yang lain, jika tidak aku tak mampu menjadi penerang jalan dalam hutan tak terjamah, penhibur dalam tiap insane yang merindukanku. Aku selalu bersenandung, tak perduli dalam keheningan maupun kebisingan. Aku cinta malam-malamku…

Aku adalah bintang. Tak seperti bulan, aku punya kerlap-kerlip cinta yang brcahaya dalam segala suasana, walau kadang tak terjamah dalam hati manusia. Walau cahayaku lemah, aku tetap berusaha hadir bila malam terang. Aku cinta keberadaanku untuk menjadi teman bagi bulan di tiap malam.

Aku adalah angin. Aku terbang dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah di tiap sudut, di tiap jengkal bumi ini. Aku bisa lembut nan syahdu,menyanyikan lagu-lagu manis penghibur hati, penghilang gundah gulana tiap jiwa. Namun bila aku marah, aku dating sebagai pembawa kehancuran. Akan kupatahkan tiap ranting, kucabut akar dari bumi, kuterbangkan semua yang kulalui dan merusaknya. Aku menangis karena kucinta semua dan harus kuhancurkan.

Aku adalah awan. Kadangkala berwarna seputih kapas kala cerah suasana hatiku, dan kelabu pekat warnaku bila aku sudah tak sanggup lagi tersenyum. Akan kutebarkan panah-panah petirku dan menancapkannya hingga serasa terbelah bumi ini. ,atahari pun tak akan sanggup mengalahkanku. Namun aku pasti akan kembali mejadi awan seputih salju, yang merayap dan melindungi tiap jengkal dari bumi yang kucinta ini.

Mereka menyebutku salju. Turun dari langit, putih dan lembut namun membekukan apa saja. Sesederhana warnaku, tak pernah aku angkuh ketika harus turun ke bumi dan meleleh menjadi genangan air kembali. Senyum dan tawa mereka yang hadir tatkala aku turun ke bumi adalah rona keindahan yang terpancar menyucikan hati. Kuncup bunga snowdrop pun mekar, layaknya permata dalam hamparan bunga. Sungguh kucinta hadirku dalam melukis senyum tulus di bibir mereka.

Saat aku mengunjungi bumi ini, akupun terjun dan meresap di dalamnya. Kata mereka, aku ini air hujan. Ada yang memujiku dan ada yang mencaciku. Aku tak perduli, karena aku hadir bukan karena kemauanku sendiri. Namun sesungguhnya seperti yang lain, aku mencintai bumi sebagai tempat pendaratanku sebelum kembali menjadi hujan lagi.

Sebut aku bumi. Aku adalah ibu dari kehidupan semua makhluk. Aku mencintai anak-anakku seperti aku mencintai diriku sendiri. Kusapih mereka dengan penuh kasih sayang hingga alam tetap terjaga. Walau harus menangis karena kian lama anak-anakku memusuhiku, menghancurkan apa yang telah kuberikan kepadanya, membunuhku secara perlahan-lahan. Namun aku adalah ibu dari semua makhluk, yang selalu mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati walau tak berbalas. Karena diriku mereka bisa hidup, bisa berpijak dan menjalani kehidupannya seiring roda waktu bergulir…

Dan aku adalah jiwa yang tersesat, terperangkap dalam ruang hampa, hanya sanggung terbang, menyaksikan bumi menangis kala angin, hujan, manusia dan semua anaknya tak lagi mencintai dengan sepenuh hati. Aku hanya menunggu dan menunggu, sampai semua anak bumi tak lagi membunuh ibunya sendiri, nmun membalas semua kasih sayang tanpa pamrih bagi tempat mereka mampu berjalan dan menjalani kehidupannya…

Aku jiwa yang melayang bagai peri hutan belantara, yang hanya sanggup berdo’a, cinta sejati akan selalu hadir di hati siapapun, walau hanya setetes harapan yang ada, karena dengan cinta, kita bisa merubah segalanya…

mellow, orisinilDecember 15, 2005 2:30 pm

Cinta. Begitu cara aku memanggilnya. Ia selalu tersenyum bila aku memanggilnya

begitu. Tak pernah ada rasa marah yang pernah terlihat dalam paras wajahnya, walau

aku tahu bukan itu namanya.

Entah harus bagaiamana aku melukiskan wajah cantik itu. Bukan, bukan cantik

secara fisik yang aku maksud, tapi lebih dari itu. Cantik hatinya, seperti yang pernah

kulihat setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, ketika kita bertemu di tempat itu, kala aku sedang mencari data

untuk tugas kimiaku (yang harus didapat dari internet), iseng-iseng aku mencoba

mencari teman untuk sekedar cari teman saja, tanpa bermaksud lebih serius. Kamu

pun mengerti, aku sendiri lebih suka bergaul dengan teman yang asli di dunia nyata

saja, bukan di dunia maya.

Tapi aku pun terpaku dalam keheningan dalam layar di hadapanku. Tergerak aku

mengajaknya berkenalan. Dia dengan nama Cinta. Tak kusangka, sejak saat itu, dia

yang lebih tepat disebut adik kelasku, bisa mengerti apa masalahku, menyejukkan

hatiku, dan menemani hari-hariku. Walau aku tahu kita terpisah jarak, tapi aku dan

dia percaya, ada sesuatu yang mengikat kita, walau itu tak terlihat. Ternyata hati kita

telah terpaut satu sama lain…

Waktu beranjak pergi, dan aku selalu teringat pada dirinya, tutur katanya yang lucu,

manis, dan membuatku tersenyum. Kala itu kita berjanji mengirim foto satu sama

lain. Dia menepati janjinya, dan kini aku mampu melihat senyum manisnya..semanis

indahnya janji kita berdua..sayangnya aku yang pengecut ini tak mampu untuk

menepati janjiku ini. Sungguh teramat malu pabila aku harus menunjukkan paras

muka yang tak layak untuk bersanding dengannya. Maafkan aku, Cinta…

Sungguh bahagia aku bersamamu, Cinta. Untaian kata-kata indahmu, senyummu

yang meluluhkan hati, dan sorot mata hangat yang selalu kau pancarkan kepadaku,

ingin selalu aku miliki dalam dekapanku.

Tapi layaknya sebuah mimpi indah, semakin takut aku kehilanganmu. Hari-hariku

semakin terasa hampa kala kau tak datang berkunjung dalam sorot mataku,

menatap kata-kata yang selalu kau tuliskan kepadaku. dan kau tahu Cinta, betapa

berharganya dirimu dalam hatiku…

Yang aku sangat hargai adalah sikapmu yang pengertian, tabah dan mempunyai

kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi persoalan hidup, Cinta. Aku yang

angkuh ini harus mengakui itu, karena itulah kenyataannya. Kau juga yang mengajari

arti dari cinta, persahabatan, dan kehidupan. Bersama dirimu, kita mencari jalan

yang kita cari, jalan ke tempat yang menjadi impian semua orang…

Aku yang kian mengenalmu, kian mengerti dengan manjanya dirimu kala merasa tak

diperhatikan, betapa kekanakannya dirimu kala sedang sedih, tapi karena itulah

Cinta, aku semakin sayang kepadamu…

Maafkan aku, Cinta. Maafkan aku yang belum mampu berdiri tegak dan berkata

lantang, bahwa aku menyayangimu, lebih dari apa yang kukatakan, lebih dari yang

aku tunjukkan kepadamu…

Maafkan aku yang belum mampu melindungimu dari kesedihan yang menyergapmu

secara tiba-tiba karena ketidakhadiranku. Maafkan aku yang belum mampu

membalas segala kebaikanmu yang tulus, dan waktu yang terhingga untuk

menemani hatiku..Maafkan aku yang belum mampu membuang ketakutanku

untukmenunjukkan kepadamu siapa aku. Maafkan aku…

Tunggulah Cinta, aku akan datang kepadamu suatu saat, dan mampu berkata

lantang, betapa aku menyayangimu, betapa ingin aku menjagamu seumur hidupku,

betapa ingin aku menggenggam tanganmu dengan hangat dan bersama-sama

menjalani hidup yang keras ini dengan indahnya, dan betapa inginnya aku melangkah

bersama-sama di kemudian hari…

Terima kasih, Cinta, karena kamu, aku masih hidup. Karena senyummu, aku bisa

melangkah. Karena penantianmu, aku bisa mengerti apa atinya kesabaran. Sekali

lagi maaf, karena aku tak bisa mengungkapkan apapun selain melalui kata-kata ini.

Sadarilah bahwa kau adalah orang yang amat berharga bagiku…

Tetaplah tersenyum, Cinta. Karena dirimu pelipur laraku..
4 my love, thanks 4 all that u give 2 me. I love u..always..

mellow, orisinilOctober 4, 2005 1:47 am

Matahari baru saja bangun dari peraduannya. Kuncup-kuncup daun kecil terlindung oleh tetes-tetes embun. Kepekatan dan dinginnya udara menambah sejuk pagi itu.

Waktu mengetuk kuncup-kuncup kecil itu. Dan kini ia mulai tumbuh, tumbuh besar..menjadi daun sejati. Hijaunya menyilaukan mata, segarnya mengundang siapa saja untuk melihatnya.

Ya, aku adalah daun hijau dari sebuah pohon di pinggir jalan. Entah kenapa aku ada disini, bersama indukku. Tapi bukan salahku bila aku ada disini, harus menghirup pengapnya udara bila siang kunjung tiba. Semua terasa panas, bahkan saudara-saudaraku pun merasa gerah karenanya.

Aku bosan disini. Memandangi mereka yang berjalan hilir mudik, yang kata saudara-saudaraku itu namanya manusia, yang bernaung di bawah pohon ini tanpa berterima kasih, atau hanya menjadi udara yang kian lama bisa dilihat dengan jelas warnanya.

Oh hujan, kata saudara-saudaraku kau sudah lama tak datang. Dimana kau, wahai hujan? Aku pun ingin melihatmu. Selama aku hidup, belum pernah aku mencicipi air selain embun saat pagi hari. Kata mereka, kau bagai pedang yang menghunus tiap sendi tulang-tulang mereka, namun terasa kebahagiaan yang terpancar dari diri mereka ketika kau datang.

Ah…aku semakin lelah, kulitku semakin keriput, warnaku pun tak secerah dulu lagi. Sepertinya aku harus menyusul saudara-saudaraku yang lain di bawah sana. Adik-adikku rupanya sudah banyak yang lahir, menggantikan kecemerlanganku, mengarungi kehidupan, menunggu waktu menjemput, dan berusaha sebisa mungkin untuk menusia yang sepertinya semakin tak peduli dengan kami. Biarlah, semoga mereka berubah.

Aku terlalu lelah untuk terus-terusan menunggu di sini. Kini aku rapuh, aku tahu aku tak muda lagi, hanya menunggu angin yang akan menhemput di balik kesenyapan.

Tersenyum lagi aku lalui, mengenang masa muda, dimana aku menjadi saksi bisu bagi mereka, bagi kehidupanku, bagi apapun di sekitarku.

Masih segar pada ingatanku, saat aku masih berupa kuncup-kuncup mungil yang tak ingin membuka mata, karena masih ada embun pagi yang menyelimutiku. Dinginya pun masih terasa, menusuk tiap pori-poriku. Entah kenapa, hal yang dulu kubenci ingin kutempuh lagi, tapi apa daya. semua telah berlalu.

Kini aku hanyalah sehelai daun kering, yang menanti di tempat pemberangkatan, meninggalkan induk dan saudara-saudaraku yang mencintaiku. Air mata tak mampu mereka alirkan, tapi aku tahu bagaimana cara mereka menghibur, cara mereka tertawa, dan cara mereka saling berbagi rasa.

Ah, dia datang, lengkap dengan segala keangkuhannya, bersiap-siap membawa aku dan saudara-saudaraku yang lain, walau beda induk untuk turun ke jalan, menjemput keheningan. Syuutt…seperti dalam mimpi, aku terhanyut dalam alunan lembutnya, mengantarkanku sampai di tempat tujuan. Kulihat mereka yang mungil, melambaikan tangan kepadaku. Sampai jumpa lagi saudaraku…

Whuss.. tiba-tiba ada yang menghantamku. Sakit sekali rasanya, mengingat aku baru saja terlena dengan buaiannya. Terhempas dari maut, kembali menduduki tanah berumput. Mataku kian terpejam, tubuhku seakan lumpuh, dan semua menjelang gelap. Selamat tinggal dunia, kelak kita akan bertemu lagi, ucapku sebelum aku terlelap dalam buaian waktu.

mellow, orisinilJune 25, 2005 6:10 am

”Sial..!!” keluh Clea sambil emnghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Di dalam kamarnya yang dicat biru langit, terbayang lagi olehnya wajah tampan Fay yang merah padahm karena cemburu. Ya, sore itu ia melihat Clea sedang bersama Pey, berdua saja di kafetaria dengan diselingi canda mesra antara keduanya.

”Clea…!!” terngiang kembali teriakan Fay memanggil dirinya. Sial, dia lupa Fay ada kegiatan OSIS hari ini. Ia hanya ingat pada Pey dan janjinya untuk bertemu sore itu.

Ia tak pernah melihat ekspresi Fay seperti itu. Sikap Fay yang sempurna, baik, lemah lembut, dan tak pernah berbicara kasar pada orang lain entah kemana sore itu…
Oops, itu Fay..!! Sial, kenapa dia ada disini?? Duhh, harus ngomong apa aku nanti..?

Seketika itu juga Fay pergi, tak perduli sekeras apapun Fay memanggil. Clea teringat lagi akan Fay yang memandangnya dengan tajam, menyiratkan hatinya yang sedang terluka…

***
“Clea…Kamu mau ga jadi pacarku?”
Tiga bulan yang lalu, di suatu sore. Fay, idaman semua siswi di SMA Maltese, memilih Clea sebagai kekasihnya. Clea pun menerima Fay sebagai pacar. Namun lambat laun Clea menyadari, ada yang salah di antara hubungan mereka. Clea merasa, Fay terlalu baik dan sempurna. Ia tak pernah marah dan selalu menuruti keinginan Clea. Sebenarnya ia ingin membuat Fay bisa menunjukkan emosi atau kecewa seperti orang lain, tapi selalu gagal. Fay tetaplah orang yang sangat baik, sampai saat itu…

Dan ketika Clea mengikuti kegiatan ekstrakulikuler drama, ia bertemu dengan Pey. Pey mulai mendekati Clea setelah pementasan drama ”Hamlet”. Awalnya ia tak perduli, apalagi saat itu ia baru saja menjalin hubungan dengan Fay. Namun bukan Pey namanya bila menyerah begitu saja. Setiap hari, tanpa sepengetahuan Fay, Pey mengirimkan pesan-pesan romantis untuk Clea, entah pesan pribadi atau di mading sekolah.

Senja hadir untuk menemani rasa sepiku
Namun saat kulihat senyuman seorang jelita
Kusadari bahwa sejuta senja pun tak mampu menandinginya…

Untuk Clea

”Wah, ternyata ada yang ngefans kamu tuh, Clea!” sahut Fay suatu kemudian. Clea menatap Fay, mencari tanda-tanda cemburu dalam dirinya. Sia-sia, Fay malah tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa.
”Entah terbuat dari apa Fay ini, sampai-sampai cemburu pun tak bisa…” gumam Clea saat itu.

Dan tepat sebulan yang lalu, Clea mengakui bahwa perhatian yang diberikan Pey padanya memang tulus dan hanya untuknya. Clea mengakui, selama bersama Pey, ada hal-hal yang saat bersama Fay tak bisa dilakukannya. Bersama Pey, Clea merasa sangat nyaman…

***

Dan sejak Fay memergoki Clea sedang berduaan dengan Pey, Fay selalu diam dan menghindar. Entah bagaimana Clea harus bersikap. Ia menyesali kebodohan dirinya sendiri. Ia ingin meminta maaf, tapi tak pernah sekalipun ia digubris. Fay semakin sibuk dengan kegiatannya sendiri sebagai Ketua OSIS.

Aku ga bisa terus-terusan kaya gini. Aku harus buat keputusan…
Aku ga bisa terus-terusan mendua dengan Fay atau Pey…
Tapi…mereka sama-sama berharga bagiku…

Clea mengingat-ingat kenangan indahnya dengan Fay. Segala mimpinya menjadi tuan puteri terpenuhi. Kencan yang romantis ia lalui. Pergi ke festival kembang api, candle light dinner, atau sekedar duduk di pinggir jalan, memandangi kerlip lampu kota…
Bayangan Fay berganti menjadi Pey. Pey yang berpenampilan sangar namun ternyata sangat gentleman dan berhati lembut. Tak segan-segan ia menunggu Clea hanya untuk mengajaknya untuk mengantarkannya pulang. Apapun ia lakukan demi Clea…

“Ahh..pusing!!”
Aku lelah…
Aku masih sayang sama Fay, tapi di sisi lain…
Aku juga tak ingin berpisah dengan Pey…
Jadi…??
Hanya ada satu pilihan terakhir…

***
Sabtu sore, Clea mengajak Pey bertemu. Pey tak percaya saat Clea memintanya untuk berpisah. “Kenapa, Clea?? Kenapa harus putus..??” Clea hanya terdiam, matanya mulai memanas, ingin menangis rasanya, tapi ia coba untuk tegar…
Sebenernya aku juga ga rela untuk putus, Pey…
”Karena…Aku ngerasa aku ngga bisa cocok sama kamu. Itu aja.”
Pey memukulkan tinjunya ke tembok. ”Alasan apa itu..??” Matanya merah, raut wajahnya tegang, dan pelan-pelan ia menatap Clea kembali. Ingin rasanya ia meminta Clea menarik ucapannya, dan berkata padanya sambil tertawa terbahak-bahak kalau ia cuma bercanda. Tapi Clea hanya menunduk, ia tak berani memandang Pey.
”Maaf Pey, aku harus pulang…”
”Aku antar ya…”
Clea menggelengkan kepalanya.
”Ngga usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Dan Clea pun meninggalkan Pey dengan torehan luka mendalam di hati…

***
Setelah berkali-kali menelepon, mengirimkan pesan dan mengajaknya bertemu, hari ini ia bisa bertemu dan berbicara dengan Fay.
”Fay, ada yang harus kubicarain sama kamu.”
”Ngga ada yang perlu dibicarain lagi.” tepis Fay ketus.
Clea cukup terperanjat dengan sikap Fay itu. Tapi ia mengerti, Fay masih marah padanya.
“Fay, dengerin aku. Aku ke sini cuma mau minta maaf dan…mau bilang kalo kita putus aja.” ucap Clea pada akhirnya. Tersirat rasa sesal sekaligus lega dalam ucapannya. Ia pandangi raut wajah Fay yang awalnya dingin berubah terkejut dan ada sorot mata sedih di matanya.
”Apa..??”
Sesaat Fay terdiam, samapi pada akhinya sorot matanya yang dingin meredup.
“Maaf Fay, aku ga bisa lama-lama. Aku harus pergi.” Tanpa menunggu persetujuan Fay, Clea segera meninggalkannya sendiri. Clea tak ingin berlama-lama di situ, pandangannya mengabur dan ia tak ingin menunggu sampai air matanya jatuh di depan Fay.
Hujan turun deras setelah itu. Fay tetap terdiam di tempat. Kembali terngiang kata-kata Clea.
”Aku ke sini cuma mau minta maaf dan… mau bilang kalo kita putus aja.”

***
Telepon berdering di rumah Fay, yang notabene juga rumah Pey. Sejak Fay tahu Clea berpacaran dengan adiknya, Fay selalu menghindar dari Pey. Apapun ucapan Pey, dia tak mau mendengarnya.
“Kriinggg..!!”
“Fay…Angkat telponnya!!” teriak Pey dari kamar mandi. Tanpa banyak bicara ia mengangkat gagang telepon.
“Halo.”
“Halo, benar disini rumah Fay?”
“Ya, saya sendiri. Dari siapa?”
“Saya kakak Clea. Saya…” sesaat terdengar isak tangis disana.
“Clea meninggal sore tadi…Jam 5 sore tepatnya…”
Gagang teleponnya terjatuh, jantung Fay serasa mau berhenti. Ia tak bisa berkata apa-apa. Pey ganti mengangkat teleponnya.
“Ya ada apa?”
“Maaf, pemakaman akan dilakukan besok pagi, semoga Anda berkenan datang..”
“Hei tunggu..!! Siapa yang meninggal??” Tapi telepon sudah terlanjur ditutup. Sesaat Fay berbisik, “Clea…”
“Apaa..?? Fay, kamu bercanda kan?? Ngga mungkin! Clea baek-baek aja ko tadi! Ngga…lelucon ini sama sekali ngga lucu, Fay!”
Ingin rasanya Pey meninju wajah tampan kakaknya, mengira bahwa Fay hanya bercanda. Tapi wajah pucatnya dan sorot mata Fay yang kosong memberi arti bahwa ia sama sekali tidak bercanda.
“Tidak mungkiiinnn…!!!!” teriak Pey, menggelegar seiring menembus rintik hujan yang semakin deras.

***
Pagi itu mereka bersama-sama tiba di rumah Clea. Mereka masih saja terdiam satu sama lain. Dan…benar saja! Suasana duka menyelimuti seluruh penjuru rumah Clea. Yang ada hanya isak tangis, orang-orang yang berpakaian hitam dan ucapan belasungkawa dari mulut para pelayat.

Berdasarkan keterangan dari ibu Clea, sore itu Clea mengendarai mobil milik ayahnya untuk mengantarkan adiknya les. Saat akan pulang ke rumah, dari arah yang berlawanan tiba-tiba ada truk yang melaju tinggi ke arah mobil Clea. Tabrakan tak bisa dihindari, Clea dibawa ke rumah sakit secepatnya, namun sayang ia hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum ia kembali ke pangkuan-Nya…

Kini Fay dan Pey hanya bisa menyesali diri, mereka telah kehilangan gadis yang mereka cintai, selamanya…Tetes mata dan ratapan mereka yang ditinggalkan oleh Clea tak akan pernah bisa mengembalikan Clea lagi…
”Selamat tinggal, Sayang…” bisik mereka di pemakamannya.

orisinilJune 9, 2005 10:08 am

Seminggu yang lalu…

Di suatu kafe, sore-sore saat hujan rintik-rintik mengguyur bumi. Di sudut kafe, tampak dua orang perempuan sedang berbincang-bincang.
“Ra, aku kemaren ketemu Arvin! Dia lagi gandengan ma cewek gitu! Kayanya aku pernah liat deh tu cewe..tapi sapa ya?” cerocos Anya tiada henti.
Dara dengan santainya mengaduk milk shake mocca-nya dan menyeruputnya hingga tak berbekas.
“Ra..kamu denger ga sih omongan aku?” ujar Anya sebal.
Sedari tadi yang dilakukan Dara hanyalah memainkan sedotan biru di gelas milk shakenya dan menyeruputnya perlahan-lahan.
“Aku denger kok, Nya..”
“Emang apa yang aku omongin?”
“Kamu cerita soal Arvin kan..Dia lagi gandengan ma cewek..Gitu kan Nya?” jelas Dara perlahan sambil menatap Anya.
“Tumben kamu denger Ra, biasanya kan kuping kamu bolot banget.” ejek Anya.
“Jangan ngejek gitu dong Nya, gini-gini kupingku masih normal. Trus apa hubungannya denganku Nya?”
“Loh..bukannya Arvin tu pacar kamu Ra? Kok kamu nyante banget gitu?”
Dara tersenyum tipis, memotong-motong cheese cake yang terhidang di hadapannya. Senyumnya terlihat sedih. Tampak bila ia
berusaha menguatkan dirinya sendiri. Lagu My Endless Love milik Diana Ross mengalun di dalam keheningan The Rainbow Cafe.
Lamat-lamat memori tentang dia dan Arvin kembali mengalir.
“Kemarin masih iya, Nya..”
“Jadi..kamu da putus ma Arvin, Ra?? Kenapa? Kenapa kamu ga bilang aku, Ra??”
“Kan kemaren kamu baru ketemuan sama Devon, Nya.. Aku ngga mau ngganggu kamu dengan cerita aku..”
Hening sesaat.
“Aku putus sama Arvin karena aku pernah mergokin dia bareng sama Reta, mesra banget..Waktu aku samperin, dia ngebentak-bentak ga jelas gitu. Padahal aku cuma nanya kenapa dia ga bilang aku kalo dia pergi bareng Reta..”
“Jadi…Arvin sama Reta..?? Pantesan aku ngerasa pernah ngeliat cewe itu yang jalan bareng Arvin..”
Dara menunduk. Bulir-bulir air mata dengan segera ia hapus.
“Ra, kamu ngga sedih?”
Dara termenung sesaat. Matanya kembali berkaca-kaca. Hatinya yang terluka terasa sakitnya lagi.
“Kalo aku bilang ngga sedih, berarti aku boong, Nya. Tapi aku ga bisa sedih terus-terusan. Show must go on.”
Anya menggenggam tangan Dara dengan rasa penuh persahabatan.
“Ra, if you need a shoulder to cry on, you’ll get mine.”
Dara menahan air matanya, ia tak ingin menangis lagi gara-gara Arvin.
“Makasih ya Nya, kamu emang sahabat terbaikku.” hangatnya persahabatan menghapuskan lara di hati Dara. Pelangi benar-benar
mengobati sakit Dara.

***

Tiga hari yang lalu…

“Pokoknya ya Ra, kamu harus lebih pe-de, lebih terawat en lebih siap untuk ngejalanin hidup kamu! Buat Arvin nyesel kalo dia telah
menyia-nyiakan seorang wanita cantik yang tak ternilai harganya.” ujar Anya sambil menghapus air mata Dara saat Dara lagi-lagi
menangis ketika bertanya-tanya mengapa Arvin berpaling darinya.

Dua hari yang lalu…

“Pertama-tama, kita ke butik dan mall! Aku tau tempat-tempat yang bagus buat baju dan aksesoris buat kamu!” ujar Anya berapi-api.
Dara cuma bisa pasrah, apapun alasannya, tak ada yang bisa membuat Anya untuk membatalkan niatnya. Setelah mengunjungi
beberapa butik dan mall, Anya menemukan gaun yang tepat dan bisa diterima Dara. Seketika itu juga Anya mengambil dan membawanya ke kasir. “Ouch..harganya mahal banget..batalin aja deh Nya..” bisik Dara. Tapi Anya menggeleng kuat-kuat, “Aku yang bayar kok! Itung-itung sebagai hadiah untuk seorang sahabat,” ucap Anya sambil menyerahkan gaun baby blue tanpa lengan yang cantik itu pada Dara. “Tapi Nya…ini terlalu bagus deh buat aku..” tepis Dara. Dara memandangi gaun baby blue itu sekali lagi. Ia membayangkan dirinya dalam balutan gaun itu, terlihat sangat cantik…Lamunannya buyar seketika saat Anya menepuk bahunya.

“Bagus kan? Aku bisa bayangin kalo kamu pake baju ini, kamu bakal terlihat perfect!” ucap Anya bersemangat. “Bener ini buat aku, Nya..?” ujar Dara takut-takut. Anya memandangnya aneh, “Ya iyalah Dara cantik..!! Ini kan aku belikan khusus buat kamu! Aku belum kasih kado waktu ulang tahunmu kemaren kan? Anggap aja ini kado yang kemaren ok!”

3 jam yang lalu…

“Sekarang kita ke salon ya!” Dara hanya mengangguk pelan, dia sudah berjanji untuk menuruti apapun kata Anya selama 3 hari ini.
Dan entah kenapa, Anya meminta Dara untuk membawa gaunnya, dan beberapa aksesori yang ia anggap bagus untuk dikenakan.

“Ra, sekarang kan ultahku, dan permintaanku saat ini adalah mengubahmu menjadi wanita paling cantik di kota ini!” ujar Anya sambil menatap Dara berbinar-binar. “Kenapa harus gitu sih..?” Anya cuma tersenyum, sepertinya ia merencanakan sesuatu…

Sejam yang lalu…

Di pesta Anya, Dara bertemu dengan Arvin. Tapi dia sendirian, tak terlihat Reta yang ia lihat menggelayut manja di lengan Arvin minggu kemarin. Dan saat itu juga Dara tahu, bagaimana Arvin terperangah dan jelas-jelas tak menyangka Dara akan tampil secantik itu. Alunan musik yang lembut menyemarakkan suasana bagi pasangan-pasangan yang ingin berdansa. Tanpa disangka-sangka Arvin mengajaknya ‘turun’. Dara memandang sekeliling, mencari-cari dimana Anya berada. Tak kelihatan.
“Ada pacar kamu?”
Suara Arvin mengejutkan Dara. Masih ada rasa di hati Dara ketika mendengar suara itu lagi. Suara yang dirindukannya sekaligus pernah memporak-porandakan hatinya..
Dara menggeleng, mencoba menatap mata elang milik Arvin.

Hmm..Arvin masih saja tampan..

“Aku cuma mau nyari Anya, tapi kayanya dia ga ada.”
“Kalo gitu kita dansa sebentar yuk, siapa tahu nanti bisa ketemu Anya.”
Tanpa basa-basi Arvin meraih tangan Dara dan mengajaknya slow dance.
“Seminggu setelah kita putus aku baru menyadari Ra…Kalo ternyata cuma kamu yang ada di hati aku…”
bisik Arvin di telinga Dara. Menggelitik tak hanya di telinga, tapi juga di kuncup bunga di hatinya yang pernah layu karena Arvin.
“Ra, mau ngga kamu balik sama aku?”
Dara terbelalak, tak menyangka bila Arvin yang seminggu yang lalu mencampakkannya demi Reta mengemis-ngemis demi mendapatkan Dara kembali.
“…”
“Aku emang pernah berbuat salah, Ra.. Tapi mau ngga kamu maafin aku? Please…”
“…”
“Ra, aku butuh kepastianmu sekarang.”
Dara menunduk dan memandangi sepatu high heels silver yang ia pakai, gelang perak berhiaskan batu permata imitasi berwarna biru
yang dengan cantik menghiasi lengan mungilnya, gaun berwarna baby blue tanpa lengan, terbuat dari sutra dan dengan indah mengikuti lekuk tubuhnya yang semampai.

Haruskah aku terima dia kembali? bagaimana jika dia mengkhianatiku sekali lagi? Aku juga masih sayang sama Arvin…Tapi…Tapi…

Dara mendongak memandangi Arvin, tapi Arvin terlihat emandang ke arah lain, dan sepertinya tertuju pada seorang gadis cantik yang berpakaian minim. Seketika Dara tahu, apa yang harus ia lakukan.

***

“Nya, kemaren aku ketemu Arvin. Dia ngajak balik.”
Dara dan Anya sama-sama berada di TK tempat Dara bekerja sebagai guru pembantu. Mereka sedang istirahat setelah beberapa jam bermain dengan murid-muridnya.
“Lalu…? Kamu terima gituh?”
Dara mengeluarkan sebuah kotak, yang berisi sepatu high heels silver yang ia pakai di pesta Anya.
“Waktu aku mau nerima ajakan dia, dia lagi ngelirik cewek lain. Saat itu juga aku injak kakinya dengan sepatu ini, dan aku langsung pergi meninggalkannya. Aku tak perduli dengan kata orang-orang. Rasanya puas sekali!”
Dara tersenyum puas, Anya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memandang kagum pada Dara.
“Gila lo Ra, ternyata bisa juga kaya gitu! Biar jadi pelajaran deh buat buaya darat itu, gimana rasanya nyakitin cewek..”
“Dan tau ga, setelah pulang dari pestamu, aku ketemu sama Rhizo..Terus aku dianterin pulang sama dia…”
“Wah..kayanya sebentar lagi aku punya kakak ipar nih..!!” goda Anya.
Dara tersipu malu, dan Anya pun semakin gencar untuk menggodanya.
“Psst…sebenernya aku ngga nyuruh Rhizo jemput kamu, tapi kaya’nya dia udah lama merhatiin kamu sejak kamu ke rumahku dulu…”
Hari yang indah, karena pelangi itu hadir di sini, di hati Dara…