mellow, orisinilDecember 21, 2005 1:43 pm

Aku adalah matahari. Ya, matahari yang selalu bersinar separuh hari. Aku datang dengan perlahan-lahan., membangunkan bumi yang sedang terlelap, untuk segera memulai aktivitasnya. Aku tak perduli, walau manusia tetap tertidur, atau mencaci-maki dengan sejuta kata tak bermakna.

Aku memang angkuh, karena aku tak dilahirkan untuk berperasaan. Aku punya tugas yang harus kujalani, setiap hari, selangakh dengan perjalanan waktu. Aku bercahaya, mengusir kegelapan yang menggurita. Aku cinta pada alam semesta. Aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku tak marah walau harus tersaput awan gelap yang menurunkan hujan. Aku tahu manusia selalu mengucapkan sumpah-serapah saat aku ada, namun memuja-muja saat aku harus ada.

Aku adalah bulan. Bulan yang tak selalu datang dalam tiap malam. Dan kau pun mengerti, raut wajahku tak selalu sama. Namun tetap saja, aku harus selalu tersenyum dalam tiap suasana, walau ingin aku menangis sekali saja bila melihat alam semesta tak seindah dulu. Aku harus hidup oleh cajaya yang lain, jika tidak aku tak mampu menjadi penerang jalan dalam hutan tak terjamah, penhibur dalam tiap insane yang merindukanku. Aku selalu bersenandung, tak perduli dalam keheningan maupun kebisingan. Aku cinta malam-malamku…

Aku adalah bintang. Tak seperti bulan, aku punya kerlap-kerlip cinta yang brcahaya dalam segala suasana, walau kadang tak terjamah dalam hati manusia. Walau cahayaku lemah, aku tetap berusaha hadir bila malam terang. Aku cinta keberadaanku untuk menjadi teman bagi bulan di tiap malam.

Aku adalah angin. Aku terbang dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah di tiap sudut, di tiap jengkal bumi ini. Aku bisa lembut nan syahdu,menyanyikan lagu-lagu manis penghibur hati, penghilang gundah gulana tiap jiwa. Namun bila aku marah, aku dating sebagai pembawa kehancuran. Akan kupatahkan tiap ranting, kucabut akar dari bumi, kuterbangkan semua yang kulalui dan merusaknya. Aku menangis karena kucinta semua dan harus kuhancurkan.

Aku adalah awan. Kadangkala berwarna seputih kapas kala cerah suasana hatiku, dan kelabu pekat warnaku bila aku sudah tak sanggup lagi tersenyum. Akan kutebarkan panah-panah petirku dan menancapkannya hingga serasa terbelah bumi ini. ,atahari pun tak akan sanggup mengalahkanku. Namun aku pasti akan kembali mejadi awan seputih salju, yang merayap dan melindungi tiap jengkal dari bumi yang kucinta ini.

Mereka menyebutku salju. Turun dari langit, putih dan lembut namun membekukan apa saja. Sesederhana warnaku, tak pernah aku angkuh ketika harus turun ke bumi dan meleleh menjadi genangan air kembali. Senyum dan tawa mereka yang hadir tatkala aku turun ke bumi adalah rona keindahan yang terpancar menyucikan hati. Kuncup bunga snowdrop pun mekar, layaknya permata dalam hamparan bunga. Sungguh kucinta hadirku dalam melukis senyum tulus di bibir mereka.

Saat aku mengunjungi bumi ini, akupun terjun dan meresap di dalamnya. Kata mereka, aku ini air hujan. Ada yang memujiku dan ada yang mencaciku. Aku tak perduli, karena aku hadir bukan karena kemauanku sendiri. Namun sesungguhnya seperti yang lain, aku mencintai bumi sebagai tempat pendaratanku sebelum kembali menjadi hujan lagi.

Sebut aku bumi. Aku adalah ibu dari kehidupan semua makhluk. Aku mencintai anak-anakku seperti aku mencintai diriku sendiri. Kusapih mereka dengan penuh kasih sayang hingga alam tetap terjaga. Walau harus menangis karena kian lama anak-anakku memusuhiku, menghancurkan apa yang telah kuberikan kepadanya, membunuhku secara perlahan-lahan. Namun aku adalah ibu dari semua makhluk, yang selalu mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati walau tak berbalas. Karena diriku mereka bisa hidup, bisa berpijak dan menjalani kehidupannya seiring roda waktu bergulir…

Dan aku adalah jiwa yang tersesat, terperangkap dalam ruang hampa, hanya sanggung terbang, menyaksikan bumi menangis kala angin, hujan, manusia dan semua anaknya tak lagi mencintai dengan sepenuh hati. Aku hanya menunggu dan menunggu, sampai semua anak bumi tak lagi membunuh ibunya sendiri, nmun membalas semua kasih sayang tanpa pamrih bagi tempat mereka mampu berjalan dan menjalani kehidupannya…

Aku jiwa yang melayang bagai peri hutan belantara, yang hanya sanggup berdo’a, cinta sejati akan selalu hadir di hati siapapun, walau hanya setetes harapan yang ada, karena dengan cinta, kita bisa merubah segalanya…

mellow, orisinil 1:14 pm

Aku adalah matahari. Ya, matahari yang selalu bersinar separuh hari. Aku datang dengan perlahan-lahan., membangunkan bumi yang sedang terlelap, untuk segera memulai aktivitasnya. Aku tak perduli, walau manusia tetap tertidur, atau mencaci-maki dengan sejuta kata tak bermakna.

Aku memang angkuh, karena aku tak dilahirkan untuk berperasaan. Aku punya tugas yang harus kujalani, setiap hari, selangakh dengan perjalanan waktu. Aku bercahaya, mengusir kegelapan yang menggurita. Aku cinta pada alam semesta. Aku bukan apa-apa tanpa mereka. Aku tak marah walau harus tersaput awan gelap yang menurunkan hujan. Aku tahu manusia selalu mengucapkan sumpah-serapah saat aku ada, namun memuja-muja saat aku harus ada.

Aku adalah bulan. Bulan yang tak selalu datang dalam tiap malam. Dan kau pun mengerti, raut wajahku tak selalu sama. Namun tetap saja, aku harus selalu tersenyum dalam tiap suasana, walau ingin aku menangis sekali saja bila melihat alam semesta tak seindah dulu. Aku harus hidup oleh cajaya yang lain, jika tidak aku tak mampu menjadi penerang jalan dalam hutan tak terjamah, penhibur dalam tiap insane yang merindukanku. Aku selalu bersenandung, tak perduli dalam keheningan maupun kebisingan. Aku cinta malam-malamku…

Aku adalah bintang. Tak seperti bulan, aku punya kerlap-kerlip cinta yang brcahaya dalam segala suasana, walau kadang tak terjamah dalam hati manusia. Walau cahayaku lemah, aku tetap berusaha hadir bila malam terang. Aku cinta keberadaanku untuk menjadi teman bagi bulan di tiap malam.

Aku adalah angin. Aku terbang dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah di tiap sudut, di tiap jengkal bumi ini. Aku bisa lembut nan syahdu,menyanyikan lagu-lagu manis penghibur hati, penghilang gundah gulana tiap jiwa. Namun bila aku marah, aku dating sebagai pembawa kehancuran. Akan kupatahkan tiap ranting, kucabut akar dari bumi, kuterbangkan semua yang kulalui dan merusaknya. Aku menangis karena kucinta semua dan harus kuhancurkan.

Aku adalah awan. Kadangkala berwarna seputih kapas kala cerah suasana hatiku, dan kelabu pekat warnaku bila aku sudah tak sanggup lagi tersenyum. Akan kutebarkan panah-panah petirku dan menancapkannya hingga serasa terbelah bumi ini. ,atahari pun tak akan sanggup mengalahkanku. Namun aku pasti akan kembali mejadi awan seputih salju, yang merayap dan melindungi tiap jengkal dari bumi yang kucinta ini.

Mereka menyebutku salju. Turun dari langit, putih dan lembut namun membekukan apa saja. Sesederhana warnaku, tak pernah aku angkuh ketika harus turun ke bumi dan meleleh menjadi genangan air kembali. Senyum dan tawa mereka yang hadir tatkala aku turun ke bumi adalah rona keindahan yang terpancar menyucikan hati. Kuncup bunga snowdrop pun mekar, layaknya permata dalam hamparan bunga. Sungguh kucinta hadirku dalam melukis senyum tulus di bibir mereka.

Saat aku mengunjungi bumi ini, akupun terjun dan meresap di dalamnya. Kata mereka, aku ini air hujan. Ada yang memujiku dan ada yang mencaciku. Aku tak perduli, karena aku hadir bukan karena kemauanku sendiri. Namun sesungguhnya seperti yang lain, aku mencintai bumi sebagai tempat pendaratanku sebelum kembali menjadi hujan lagi.

Sebut aku bumi. Aku adalah ibu dari kehidupan semua makhluk. Aku mencintai anak-anakku seperti aku mencintai diriku sendiri. Kusapih mereka dengan penuh kasih sayang hingga alam tetap terjaga. Walau harus menangis karena kian lama anak-anakku memusuhiku, menghancurkan apa yang telah kuberikan kepadanya, membunuhku secara perlahan-lahan. Namun aku adalah ibu dari semua makhluk, yang selalu mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati walau tak berbalas. Karena diriku mereka bisa hidup, bisa berpijak dan menjalani kehidupannya seiring roda waktu bergulir…

Dan aku adalah jiwa yang tersesat, terperangkap dalam ruang hampa, hanya sanggung terbang, menyaksikan bumi menangis kala angin, hujan, manusia dan semua anaknya tak lagi mencintai dengan sepenuh hati. Aku hanya menunggu dan menunggu, sampai semua anak bumi tak lagi membunuh ibunya sendiri, nmun membalas semua kasih sayang tanpa pamrih bagi tempat mereka mampu berjalan dan menjalani kehidupannya…

Aku jiwa yang melayang bagai peri hutan belantara, yang hanya sanggup berdo’a, cinta sejati akan selalu hadir di hati siapapun, walau hanya setetes harapan yang ada, karena dengan cinta, kita bisa merubah segalanya…

mellow, orisinilDecember 15, 2005 2:30 pm

Cinta. Begitu cara aku memanggilnya. Ia selalu tersenyum bila aku memanggilnya

begitu. Tak pernah ada rasa marah yang pernah terlihat dalam paras wajahnya, walau

aku tahu bukan itu namanya.

Entah harus bagaiamana aku melukiskan wajah cantik itu. Bukan, bukan cantik

secara fisik yang aku maksud, tapi lebih dari itu. Cantik hatinya, seperti yang pernah

kulihat setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, ketika kita bertemu di tempat itu, kala aku sedang mencari data

untuk tugas kimiaku (yang harus didapat dari internet), iseng-iseng aku mencoba

mencari teman untuk sekedar cari teman saja, tanpa bermaksud lebih serius. Kamu

pun mengerti, aku sendiri lebih suka bergaul dengan teman yang asli di dunia nyata

saja, bukan di dunia maya.

Tapi aku pun terpaku dalam keheningan dalam layar di hadapanku. Tergerak aku

mengajaknya berkenalan. Dia dengan nama Cinta. Tak kusangka, sejak saat itu, dia

yang lebih tepat disebut adik kelasku, bisa mengerti apa masalahku, menyejukkan

hatiku, dan menemani hari-hariku. Walau aku tahu kita terpisah jarak, tapi aku dan

dia percaya, ada sesuatu yang mengikat kita, walau itu tak terlihat. Ternyata hati kita

telah terpaut satu sama lain…

Waktu beranjak pergi, dan aku selalu teringat pada dirinya, tutur katanya yang lucu,

manis, dan membuatku tersenyum. Kala itu kita berjanji mengirim foto satu sama

lain. Dia menepati janjinya, dan kini aku mampu melihat senyum manisnya..semanis

indahnya janji kita berdua..sayangnya aku yang pengecut ini tak mampu untuk

menepati janjiku ini. Sungguh teramat malu pabila aku harus menunjukkan paras

muka yang tak layak untuk bersanding dengannya. Maafkan aku, Cinta…

Sungguh bahagia aku bersamamu, Cinta. Untaian kata-kata indahmu, senyummu

yang meluluhkan hati, dan sorot mata hangat yang selalu kau pancarkan kepadaku,

ingin selalu aku miliki dalam dekapanku.

Tapi layaknya sebuah mimpi indah, semakin takut aku kehilanganmu. Hari-hariku

semakin terasa hampa kala kau tak datang berkunjung dalam sorot mataku,

menatap kata-kata yang selalu kau tuliskan kepadaku. dan kau tahu Cinta, betapa

berharganya dirimu dalam hatiku…

Yang aku sangat hargai adalah sikapmu yang pengertian, tabah dan mempunyai

kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi persoalan hidup, Cinta. Aku yang

angkuh ini harus mengakui itu, karena itulah kenyataannya. Kau juga yang mengajari

arti dari cinta, persahabatan, dan kehidupan. Bersama dirimu, kita mencari jalan

yang kita cari, jalan ke tempat yang menjadi impian semua orang…

Aku yang kian mengenalmu, kian mengerti dengan manjanya dirimu kala merasa tak

diperhatikan, betapa kekanakannya dirimu kala sedang sedih, tapi karena itulah

Cinta, aku semakin sayang kepadamu…

Maafkan aku, Cinta. Maafkan aku yang belum mampu berdiri tegak dan berkata

lantang, bahwa aku menyayangimu, lebih dari apa yang kukatakan, lebih dari yang

aku tunjukkan kepadamu…

Maafkan aku yang belum mampu melindungimu dari kesedihan yang menyergapmu

secara tiba-tiba karena ketidakhadiranku. Maafkan aku yang belum mampu

membalas segala kebaikanmu yang tulus, dan waktu yang terhingga untuk

menemani hatiku..Maafkan aku yang belum mampu membuang ketakutanku

untukmenunjukkan kepadamu siapa aku. Maafkan aku…

Tunggulah Cinta, aku akan datang kepadamu suatu saat, dan mampu berkata

lantang, betapa aku menyayangimu, betapa ingin aku menjagamu seumur hidupku,

betapa ingin aku menggenggam tanganmu dengan hangat dan bersama-sama

menjalani hidup yang keras ini dengan indahnya, dan betapa inginnya aku melangkah

bersama-sama di kemudian hari…

Terima kasih, Cinta, karena kamu, aku masih hidup. Karena senyummu, aku bisa

melangkah. Karena penantianmu, aku bisa mengerti apa atinya kesabaran. Sekali

lagi maaf, karena aku tak bisa mengungkapkan apapun selain melalui kata-kata ini.

Sadarilah bahwa kau adalah orang yang amat berharga bagiku…

Tetaplah tersenyum, Cinta. Karena dirimu pelipur laraku..
4 my love, thanks 4 all that u give 2 me. I love u..always..