Matahari baru saja bangun dari peraduannya. Kuncup-kuncup daun kecil terlindung oleh tetes-tetes embun. Kepekatan dan dinginnya udara menambah sejuk pagi itu.
Waktu mengetuk kuncup-kuncup kecil itu. Dan kini ia mulai tumbuh, tumbuh besar..menjadi daun sejati. Hijaunya menyilaukan mata, segarnya mengundang siapa saja untuk melihatnya.
Ya, aku adalah daun hijau dari sebuah pohon di pinggir jalan. Entah kenapa aku ada disini, bersama indukku. Tapi bukan salahku bila aku ada disini, harus menghirup pengapnya udara bila siang kunjung tiba. Semua terasa panas, bahkan saudara-saudaraku pun merasa gerah karenanya.
Aku bosan disini. Memandangi mereka yang berjalan hilir mudik, yang kata saudara-saudaraku itu namanya manusia, yang bernaung di bawah pohon ini tanpa berterima kasih, atau hanya menjadi udara yang kian lama bisa dilihat dengan jelas warnanya.
Oh hujan, kata saudara-saudaraku kau sudah lama tak datang. Dimana kau, wahai hujan? Aku pun ingin melihatmu. Selama aku hidup, belum pernah aku mencicipi air selain embun saat pagi hari. Kata mereka, kau bagai pedang yang menghunus tiap sendi tulang-tulang mereka, namun terasa kebahagiaan yang terpancar dari diri mereka ketika kau datang.
Ah…aku semakin lelah, kulitku semakin keriput, warnaku pun tak secerah dulu lagi. Sepertinya aku harus menyusul saudara-saudaraku yang lain di bawah sana. Adik-adikku rupanya sudah banyak yang lahir, menggantikan kecemerlanganku, mengarungi kehidupan, menunggu waktu menjemput, dan berusaha sebisa mungkin untuk menusia yang sepertinya semakin tak peduli dengan kami. Biarlah, semoga mereka berubah.
Aku terlalu lelah untuk terus-terusan menunggu di sini. Kini aku rapuh, aku tahu aku tak muda lagi, hanya menunggu angin yang akan menhemput di balik kesenyapan.
Tersenyum lagi aku lalui, mengenang masa muda, dimana aku menjadi saksi bisu bagi mereka, bagi kehidupanku, bagi apapun di sekitarku.
Masih segar pada ingatanku, saat aku masih berupa kuncup-kuncup mungil yang tak ingin membuka mata, karena masih ada embun pagi yang menyelimutiku. Dinginya pun masih terasa, menusuk tiap pori-poriku. Entah kenapa, hal yang dulu kubenci ingin kutempuh lagi, tapi apa daya. semua telah berlalu.
Kini aku hanyalah sehelai daun kering, yang menanti di tempat pemberangkatan, meninggalkan induk dan saudara-saudaraku yang mencintaiku. Air mata tak mampu mereka alirkan, tapi aku tahu bagaimana cara mereka menghibur, cara mereka tertawa, dan cara mereka saling berbagi rasa.
Ah, dia datang, lengkap dengan segala keangkuhannya, bersiap-siap membawa aku dan saudara-saudaraku yang lain, walau beda induk untuk turun ke jalan, menjemput keheningan. Syuutt…seperti dalam mimpi, aku terhanyut dalam alunan lembutnya, mengantarkanku sampai di tempat tujuan. Kulihat mereka yang mungil, melambaikan tangan kepadaku. Sampai jumpa lagi saudaraku…
Whuss.. tiba-tiba ada yang menghantamku. Sakit sekali rasanya, mengingat aku baru saja terlena dengan buaiannya. Terhempas dari maut, kembali menduduki tanah berumput. Mataku kian terpejam, tubuhku seakan lumpuh, dan semua menjelang gelap. Selamat tinggal dunia, kelak kita akan bertemu lagi, ucapku sebelum aku terlelap dalam buaian waktu.
