”Sial..!!” keluh Clea sambil emnghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Di dalam kamarnya yang dicat biru langit, terbayang lagi olehnya wajah tampan Fay yang merah padahm karena cemburu. Ya, sore itu ia melihat Clea sedang bersama Pey, berdua saja di kafetaria dengan diselingi canda mesra antara keduanya.
”Clea…!!” terngiang kembali teriakan Fay memanggil dirinya. Sial, dia lupa Fay ada kegiatan OSIS hari ini. Ia hanya ingat pada Pey dan janjinya untuk bertemu sore itu.
Ia tak pernah melihat ekspresi Fay seperti itu. Sikap Fay yang sempurna, baik, lemah lembut, dan tak pernah berbicara kasar pada orang lain entah kemana sore itu…
Oops, itu Fay..!! Sial, kenapa dia ada disini?? Duhh, harus ngomong apa aku nanti..?
Seketika itu juga Fay pergi, tak perduli sekeras apapun Fay memanggil. Clea teringat lagi akan Fay yang memandangnya dengan tajam, menyiratkan hatinya yang sedang terluka…
***
“Clea…Kamu mau ga jadi pacarku?”
Tiga bulan yang lalu, di suatu sore. Fay, idaman semua siswi di SMA Maltese, memilih Clea sebagai kekasihnya. Clea pun menerima Fay sebagai pacar. Namun lambat laun Clea menyadari, ada yang salah di antara hubungan mereka. Clea merasa, Fay terlalu baik dan sempurna. Ia tak pernah marah dan selalu menuruti keinginan Clea. Sebenarnya ia ingin membuat Fay bisa menunjukkan emosi atau kecewa seperti orang lain, tapi selalu gagal. Fay tetaplah orang yang sangat baik, sampai saat itu…
Dan ketika Clea mengikuti kegiatan ekstrakulikuler drama, ia bertemu dengan Pey. Pey mulai mendekati Clea setelah pementasan drama ”Hamlet”. Awalnya ia tak perduli, apalagi saat itu ia baru saja menjalin hubungan dengan Fay. Namun bukan Pey namanya bila menyerah begitu saja. Setiap hari, tanpa sepengetahuan Fay, Pey mengirimkan pesan-pesan romantis untuk Clea, entah pesan pribadi atau di mading sekolah.
Senja hadir untuk menemani rasa sepiku
Namun saat kulihat senyuman seorang jelita
Kusadari bahwa sejuta senja pun tak mampu menandinginya…
Untuk Clea
”Wah, ternyata ada yang ngefans kamu tuh, Clea!” sahut Fay suatu kemudian. Clea menatap Fay, mencari tanda-tanda cemburu dalam dirinya. Sia-sia, Fay malah tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa.
”Entah terbuat dari apa Fay ini, sampai-sampai cemburu pun tak bisa…” gumam Clea saat itu.
Dan tepat sebulan yang lalu, Clea mengakui bahwa perhatian yang diberikan Pey padanya memang tulus dan hanya untuknya. Clea mengakui, selama bersama Pey, ada hal-hal yang saat bersama Fay tak bisa dilakukannya. Bersama Pey, Clea merasa sangat nyaman…
***
Dan sejak Fay memergoki Clea sedang berduaan dengan Pey, Fay selalu diam dan menghindar. Entah bagaimana Clea harus bersikap. Ia menyesali kebodohan dirinya sendiri. Ia ingin meminta maaf, tapi tak pernah sekalipun ia digubris. Fay semakin sibuk dengan kegiatannya sendiri sebagai Ketua OSIS.
Aku ga bisa terus-terusan kaya gini. Aku harus buat keputusan…
Aku ga bisa terus-terusan mendua dengan Fay atau Pey…
Tapi…mereka sama-sama berharga bagiku…
Clea mengingat-ingat kenangan indahnya dengan Fay. Segala mimpinya menjadi tuan puteri terpenuhi. Kencan yang romantis ia lalui. Pergi ke festival kembang api, candle light dinner, atau sekedar duduk di pinggir jalan, memandangi kerlip lampu kota…
Bayangan Fay berganti menjadi Pey. Pey yang berpenampilan sangar namun ternyata sangat gentleman dan berhati lembut. Tak segan-segan ia menunggu Clea hanya untuk mengajaknya untuk mengantarkannya pulang. Apapun ia lakukan demi Clea…
“Ahh..pusing!!”
Aku lelah…
Aku masih sayang sama Fay, tapi di sisi lain…
Aku juga tak ingin berpisah dengan Pey…
Jadi…??
Hanya ada satu pilihan terakhir…
***
Sabtu sore, Clea mengajak Pey bertemu. Pey tak percaya saat Clea memintanya untuk berpisah. “Kenapa, Clea?? Kenapa harus putus..??” Clea hanya terdiam, matanya mulai memanas, ingin menangis rasanya, tapi ia coba untuk tegar…
Sebenernya aku juga ga rela untuk putus, Pey…
”Karena…Aku ngerasa aku ngga bisa cocok sama kamu. Itu aja.”
Pey memukulkan tinjunya ke tembok. ”Alasan apa itu..??” Matanya merah, raut wajahnya tegang, dan pelan-pelan ia menatap Clea kembali. Ingin rasanya ia meminta Clea menarik ucapannya, dan berkata padanya sambil tertawa terbahak-bahak kalau ia cuma bercanda. Tapi Clea hanya menunduk, ia tak berani memandang Pey.
”Maaf Pey, aku harus pulang…”
”Aku antar ya…”
Clea menggelengkan kepalanya.
”Ngga usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Dan Clea pun meninggalkan Pey dengan torehan luka mendalam di hati…
***
Setelah berkali-kali menelepon, mengirimkan pesan dan mengajaknya bertemu, hari ini ia bisa bertemu dan berbicara dengan Fay.
”Fay, ada yang harus kubicarain sama kamu.”
”Ngga ada yang perlu dibicarain lagi.” tepis Fay ketus.
Clea cukup terperanjat dengan sikap Fay itu. Tapi ia mengerti, Fay masih marah padanya.
“Fay, dengerin aku. Aku ke sini cuma mau minta maaf dan…mau bilang kalo kita putus aja.” ucap Clea pada akhirnya. Tersirat rasa sesal sekaligus lega dalam ucapannya. Ia pandangi raut wajah Fay yang awalnya dingin berubah terkejut dan ada sorot mata sedih di matanya.
”Apa..??”
Sesaat Fay terdiam, samapi pada akhinya sorot matanya yang dingin meredup.
“Maaf Fay, aku ga bisa lama-lama. Aku harus pergi.” Tanpa menunggu persetujuan Fay, Clea segera meninggalkannya sendiri. Clea tak ingin berlama-lama di situ, pandangannya mengabur dan ia tak ingin menunggu sampai air matanya jatuh di depan Fay.
Hujan turun deras setelah itu. Fay tetap terdiam di tempat. Kembali terngiang kata-kata Clea.
”Aku ke sini cuma mau minta maaf dan… mau bilang kalo kita putus aja.”
***
Telepon berdering di rumah Fay, yang notabene juga rumah Pey. Sejak Fay tahu Clea berpacaran dengan adiknya, Fay selalu menghindar dari Pey. Apapun ucapan Pey, dia tak mau mendengarnya.
“Kriinggg..!!”
“Fay…Angkat telponnya!!” teriak Pey dari kamar mandi. Tanpa banyak bicara ia mengangkat gagang telepon.
“Halo.”
“Halo, benar disini rumah Fay?”
“Ya, saya sendiri. Dari siapa?”
“Saya kakak Clea. Saya…” sesaat terdengar isak tangis disana.
“Clea meninggal sore tadi…Jam 5 sore tepatnya…”
Gagang teleponnya terjatuh, jantung Fay serasa mau berhenti. Ia tak bisa berkata apa-apa. Pey ganti mengangkat teleponnya.
“Ya ada apa?”
“Maaf, pemakaman akan dilakukan besok pagi, semoga Anda berkenan datang..”
“Hei tunggu..!! Siapa yang meninggal??” Tapi telepon sudah terlanjur ditutup. Sesaat Fay berbisik, “Clea…”
“Apaa..?? Fay, kamu bercanda kan?? Ngga mungkin! Clea baek-baek aja ko tadi! Ngga…lelucon ini sama sekali ngga lucu, Fay!”
Ingin rasanya Pey meninju wajah tampan kakaknya, mengira bahwa Fay hanya bercanda. Tapi wajah pucatnya dan sorot mata Fay yang kosong memberi arti bahwa ia sama sekali tidak bercanda.
“Tidak mungkiiinnn…!!!!” teriak Pey, menggelegar seiring menembus rintik hujan yang semakin deras.
***
Pagi itu mereka bersama-sama tiba di rumah Clea. Mereka masih saja terdiam satu sama lain. Dan…benar saja! Suasana duka menyelimuti seluruh penjuru rumah Clea. Yang ada hanya isak tangis, orang-orang yang berpakaian hitam dan ucapan belasungkawa dari mulut para pelayat.
Berdasarkan keterangan dari ibu Clea, sore itu Clea mengendarai mobil milik ayahnya untuk mengantarkan adiknya les. Saat akan pulang ke rumah, dari arah yang berlawanan tiba-tiba ada truk yang melaju tinggi ke arah mobil Clea. Tabrakan tak bisa dihindari, Clea dibawa ke rumah sakit secepatnya, namun sayang ia hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum ia kembali ke pangkuan-Nya…
Kini Fay dan Pey hanya bisa menyesali diri, mereka telah kehilangan gadis yang mereka cintai, selamanya…Tetes mata dan ratapan mereka yang ditinggalkan oleh Clea tak akan pernah bisa mengembalikan Clea lagi…
”Selamat tinggal, Sayang…” bisik mereka di pemakamannya.
