Seminggu yang lalu…

Di suatu kafe, sore-sore saat hujan rintik-rintik mengguyur bumi. Di sudut kafe, tampak dua orang perempuan sedang berbincang-bincang.
“Ra, aku kemaren ketemu Arvin! Dia lagi gandengan ma cewek gitu! Kayanya aku pernah liat deh tu cewe..tapi sapa ya?” cerocos Anya tiada henti.
Dara dengan santainya mengaduk milk shake mocca-nya dan menyeruputnya hingga tak berbekas.
“Ra..kamu denger ga sih omongan aku?” ujar Anya sebal.
Sedari tadi yang dilakukan Dara hanyalah memainkan sedotan biru di gelas milk shakenya dan menyeruputnya perlahan-lahan.
“Aku denger kok, Nya..”
“Emang apa yang aku omongin?”
“Kamu cerita soal Arvin kan..Dia lagi gandengan ma cewek..Gitu kan Nya?” jelas Dara perlahan sambil menatap Anya.
“Tumben kamu denger Ra, biasanya kan kuping kamu bolot banget.” ejek Anya.
“Jangan ngejek gitu dong Nya, gini-gini kupingku masih normal. Trus apa hubungannya denganku Nya?”
“Loh..bukannya Arvin tu pacar kamu Ra? Kok kamu nyante banget gitu?”
Dara tersenyum tipis, memotong-motong cheese cake yang terhidang di hadapannya. Senyumnya terlihat sedih. Tampak bila ia
berusaha menguatkan dirinya sendiri. Lagu My Endless Love milik Diana Ross mengalun di dalam keheningan The Rainbow Cafe.
Lamat-lamat memori tentang dia dan Arvin kembali mengalir.
“Kemarin masih iya, Nya..”
“Jadi..kamu da putus ma Arvin, Ra?? Kenapa? Kenapa kamu ga bilang aku, Ra??”
“Kan kemaren kamu baru ketemuan sama Devon, Nya.. Aku ngga mau ngganggu kamu dengan cerita aku..”
Hening sesaat.
“Aku putus sama Arvin karena aku pernah mergokin dia bareng sama Reta, mesra banget..Waktu aku samperin, dia ngebentak-bentak ga jelas gitu. Padahal aku cuma nanya kenapa dia ga bilang aku kalo dia pergi bareng Reta..”
“Jadi…Arvin sama Reta..?? Pantesan aku ngerasa pernah ngeliat cewe itu yang jalan bareng Arvin..”
Dara menunduk. Bulir-bulir air mata dengan segera ia hapus.
“Ra, kamu ngga sedih?”
Dara termenung sesaat. Matanya kembali berkaca-kaca. Hatinya yang terluka terasa sakitnya lagi.
“Kalo aku bilang ngga sedih, berarti aku boong, Nya. Tapi aku ga bisa sedih terus-terusan. Show must go on.”
Anya menggenggam tangan Dara dengan rasa penuh persahabatan.
“Ra, if you need a shoulder to cry on, you’ll get mine.”
Dara menahan air matanya, ia tak ingin menangis lagi gara-gara Arvin.
“Makasih ya Nya, kamu emang sahabat terbaikku.” hangatnya persahabatan menghapuskan lara di hati Dara. Pelangi benar-benar
mengobati sakit Dara.

***

Tiga hari yang lalu…

“Pokoknya ya Ra, kamu harus lebih pe-de, lebih terawat en lebih siap untuk ngejalanin hidup kamu! Buat Arvin nyesel kalo dia telah
menyia-nyiakan seorang wanita cantik yang tak ternilai harganya.” ujar Anya sambil menghapus air mata Dara saat Dara lagi-lagi
menangis ketika bertanya-tanya mengapa Arvin berpaling darinya.

Dua hari yang lalu…

“Pertama-tama, kita ke butik dan mall! Aku tau tempat-tempat yang bagus buat baju dan aksesoris buat kamu!” ujar Anya berapi-api.
Dara cuma bisa pasrah, apapun alasannya, tak ada yang bisa membuat Anya untuk membatalkan niatnya. Setelah mengunjungi
beberapa butik dan mall, Anya menemukan gaun yang tepat dan bisa diterima Dara. Seketika itu juga Anya mengambil dan membawanya ke kasir. “Ouch..harganya mahal banget..batalin aja deh Nya..” bisik Dara. Tapi Anya menggeleng kuat-kuat, “Aku yang bayar kok! Itung-itung sebagai hadiah untuk seorang sahabat,” ucap Anya sambil menyerahkan gaun baby blue tanpa lengan yang cantik itu pada Dara. “Tapi Nya…ini terlalu bagus deh buat aku..” tepis Dara. Dara memandangi gaun baby blue itu sekali lagi. Ia membayangkan dirinya dalam balutan gaun itu, terlihat sangat cantik…Lamunannya buyar seketika saat Anya menepuk bahunya.

“Bagus kan? Aku bisa bayangin kalo kamu pake baju ini, kamu bakal terlihat perfect!” ucap Anya bersemangat. “Bener ini buat aku, Nya..?” ujar Dara takut-takut. Anya memandangnya aneh, “Ya iyalah Dara cantik..!! Ini kan aku belikan khusus buat kamu! Aku belum kasih kado waktu ulang tahunmu kemaren kan? Anggap aja ini kado yang kemaren ok!”

3 jam yang lalu…

“Sekarang kita ke salon ya!” Dara hanya mengangguk pelan, dia sudah berjanji untuk menuruti apapun kata Anya selama 3 hari ini.
Dan entah kenapa, Anya meminta Dara untuk membawa gaunnya, dan beberapa aksesori yang ia anggap bagus untuk dikenakan.

“Ra, sekarang kan ultahku, dan permintaanku saat ini adalah mengubahmu menjadi wanita paling cantik di kota ini!” ujar Anya sambil menatap Dara berbinar-binar. “Kenapa harus gitu sih..?” Anya cuma tersenyum, sepertinya ia merencanakan sesuatu…

Sejam yang lalu…

Di pesta Anya, Dara bertemu dengan Arvin. Tapi dia sendirian, tak terlihat Reta yang ia lihat menggelayut manja di lengan Arvin minggu kemarin. Dan saat itu juga Dara tahu, bagaimana Arvin terperangah dan jelas-jelas tak menyangka Dara akan tampil secantik itu. Alunan musik yang lembut menyemarakkan suasana bagi pasangan-pasangan yang ingin berdansa. Tanpa disangka-sangka Arvin mengajaknya ‘turun’. Dara memandang sekeliling, mencari-cari dimana Anya berada. Tak kelihatan.
“Ada pacar kamu?”
Suara Arvin mengejutkan Dara. Masih ada rasa di hati Dara ketika mendengar suara itu lagi. Suara yang dirindukannya sekaligus pernah memporak-porandakan hatinya..
Dara menggeleng, mencoba menatap mata elang milik Arvin.

Hmm..Arvin masih saja tampan..

“Aku cuma mau nyari Anya, tapi kayanya dia ga ada.”
“Kalo gitu kita dansa sebentar yuk, siapa tahu nanti bisa ketemu Anya.”
Tanpa basa-basi Arvin meraih tangan Dara dan mengajaknya slow dance.
“Seminggu setelah kita putus aku baru menyadari Ra…Kalo ternyata cuma kamu yang ada di hati aku…”
bisik Arvin di telinga Dara. Menggelitik tak hanya di telinga, tapi juga di kuncup bunga di hatinya yang pernah layu karena Arvin.
“Ra, mau ngga kamu balik sama aku?”
Dara terbelalak, tak menyangka bila Arvin yang seminggu yang lalu mencampakkannya demi Reta mengemis-ngemis demi mendapatkan Dara kembali.
“…”
“Aku emang pernah berbuat salah, Ra.. Tapi mau ngga kamu maafin aku? Please…”
“…”
“Ra, aku butuh kepastianmu sekarang.”
Dara menunduk dan memandangi sepatu high heels silver yang ia pakai, gelang perak berhiaskan batu permata imitasi berwarna biru
yang dengan cantik menghiasi lengan mungilnya, gaun berwarna baby blue tanpa lengan, terbuat dari sutra dan dengan indah mengikuti lekuk tubuhnya yang semampai.

Haruskah aku terima dia kembali? bagaimana jika dia mengkhianatiku sekali lagi? Aku juga masih sayang sama Arvin…Tapi…Tapi…

Dara mendongak memandangi Arvin, tapi Arvin terlihat emandang ke arah lain, dan sepertinya tertuju pada seorang gadis cantik yang berpakaian minim. Seketika Dara tahu, apa yang harus ia lakukan.

***

“Nya, kemaren aku ketemu Arvin. Dia ngajak balik.”
Dara dan Anya sama-sama berada di TK tempat Dara bekerja sebagai guru pembantu. Mereka sedang istirahat setelah beberapa jam bermain dengan murid-muridnya.
“Lalu…? Kamu terima gituh?”
Dara mengeluarkan sebuah kotak, yang berisi sepatu high heels silver yang ia pakai di pesta Anya.
“Waktu aku mau nerima ajakan dia, dia lagi ngelirik cewek lain. Saat itu juga aku injak kakinya dengan sepatu ini, dan aku langsung pergi meninggalkannya. Aku tak perduli dengan kata orang-orang. Rasanya puas sekali!”
Dara tersenyum puas, Anya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memandang kagum pada Dara.
“Gila lo Ra, ternyata bisa juga kaya gitu! Biar jadi pelajaran deh buat buaya darat itu, gimana rasanya nyakitin cewek..”
“Dan tau ga, setelah pulang dari pestamu, aku ketemu sama Rhizo..Terus aku dianterin pulang sama dia…”
“Wah..kayanya sebentar lagi aku punya kakak ipar nih..!!” goda Anya.
Dara tersipu malu, dan Anya pun semakin gencar untuk menggodanya.
“Psst…sebenernya aku ngga nyuruh Rhizo jemput kamu, tapi kaya’nya dia udah lama merhatiin kamu sejak kamu ke rumahku dulu…”
Hari yang indah, karena pelangi itu hadir di sini, di hati Dara…