Ini adalah salah satu bentuk cerpenku yang tertunda. Mungkin bukan yang terbaik, tapi moga-moga bisa jadi pemicu untuk terus membuat cerpen baru yang lebih bagus dan lebih bermakna.
Harapan di Suatu Pagi
Resha hanya terdiam, terlihat dari raut wajahnya ada sesuatu yang mengganggu. “Apa yang membuat seorang putri membiarkan kecantikannya menjauh darinya? Adakah sesuatu yang bisa membuat sang putri tersenyum kembali dan menyinari dunia lagi?” goda Inka, sahabatnya yang suka sekali melontarkan puisi dan kata-kata puitis lainnya. Resha hanya memandang sekejap, kemudian melengos kembali. Tampak bila Resha tidak ingin diganggu saat itu.
Menyadari hal itu, Inka mencoba mengalihkan perhatian Resha. “Sha, liat rapormu donk! Aku pengen liat sapa yang menang kali ini.” Kata Inka nyengir. Mendengar kata dan segala sesuatu yang berhubungan dengan rapor dan nilainya kali ini, Resha semakin terlihat jutek. “Udah ah, ga usah ngomongin itu lagi!” ujar Resha ketus. Ia segera meninggalkan bangkunya dan menuju perpustakaan.
***
Resha terlihat sibuk memilih buku yang akan dibacanya. Secara tidak sadar, tangannya meraih buku yang berhubungan dengan prestasi seorang ilmuwan dalam pengembangan suatu teori. Judul bukunya saja sudah membuat Resha sebal. Diambilnya buku yang lain. Kali ini berhubungan dengan biografi seorang sastrawan yang sukses. Resha melihat tak ada buku lain yang menarik minatnya. Segera saja ia mengambil koran terbaru hari ini.
Lembar demi lembar ia baca, tapi tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Pikirannya masih melayang mengingat rapor yang dibagikan hari ini. Terbayang olehnya nilai 7 yang banyak menghiasi lembaran kertas yang dibagikan gurunya tadi. Terbayang kembali raut wajah gurunya yang terlihat heran oleh nilai yang didapatkan Resha. Tak biasanya Resha Kharisma yang juara kelas dan aktif di kelasnya hanya mendapat 7 untuk beberapa mata pelajaran yang dikuasainya.
Resha semakin sebal mengingatnya. Terbayang olehnya raut wajah orang tuanya yang akan sangat kecewa melihat prestasinya yang mereka anggap pas-pasan itu. Resha tahu, teman-temannya pun pasti bertanya-tanya apa yang terjadi pada Resha, mengingat Resha adalah anak terpintar di kelas IPA 1, kelas dimana anak-anak pintar di bidangnya berkumpul.
***
Sekolah cepat sekali berlalu, bagi Resha. Dan saat kepulangannya adalah suatu beban bagi Resha. Hari ini semua anggota keluarga di keluarga Resha berkumpul. Ayahnya, Ibunya, Mbak Risha, dan Mas Reza. Semua orang yang selama ini jarang berkumpul karena kesibukannya masing-masing seperti datang untuk menyidang Resha. Resha heran, mengapa mereka baru bisa datang dan berkumpul saat Resha tidak ingin diganggu? Ayah dan Ibunya yang pengacara terkenal, Mbak Risha yang seorang dosen bahasa Inggris, dan Mas Reza yang seorang pengusaha sukses di bidang property jarang sekali berkumpul seperti layaknya keluarga. Mereka hanya datang saat waktu-waktu tertentu, seperti saat ini, saat yang paling dibenci Resha karena kehadiran keluarganya.
***
“Ouch, semua orang telah hadir disini. Selamat datang di Persidangan Keluarga Resha..”batin Resha, melihat semua orang ada di ruang tamu, asyik mengobrol.
“Selamat datang, Resha. Bagaimana rapornya?” Tanya Ibu, dengan senyum mengembang. Entah mengapa Ibu selalu saja tersenyum sebelum melengkungkan senyumnya menjadi lengkungan kurva yang menjadi awal pertanda yang buruk.
Pertanyaan bagus, tanpa basa-basi lagi.
“Biasa aja Bu. Ngga ada yang bagus.” Ujar Resha, sebisa mungkin menunjukkan nada yang datar.
“Coba lihat.”
Dan benar saja, saat Ayah, Ibu, Mas Reza dan Mbak Risha melihat buku rapornya, dan tak melihat adanya perkembangan bagus dari Resha, spontan mereka bertanya.
“Kok 7 semua?”
Resha mengambil air di kulkas, dan duduk di antara mereka. “Mau bagaimana lagi, hanya segitu yang bisa Resha tunjukkan.” “Ada yang salah kali, mungkin salah tulis ato gimana.”ucap Ibu, seolah tak percaya. “Ngga ko. Resha udah tanya ke wali kelas Resha. Emang segitu nilai Resha.”jawab Resha, mencoba untuk tenang.
Semua terdiam. “Ya sudahlah, semester depan kamu harus meningkatkan prestasimu. Jangan terlalu banyak begadang dan baca komik. Kamu sudah kelas 3. Waktunya memikirkan masa depanmu.” Nasehat Ibu. Resha hanya diam, tak sedikitpun memandang ibunya. Ia bosan diceramahi terus-menerus.
“Resha ke kamar dulu.” Ujar Resha segera beranjak ke kamar.
***
“Brakkk..!!”
Sekuat tenaga ia membanting pintu kamarnya dengan penuh emosi. Sebenarnya ia ingin membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya, tapi akal sehatnya melarangnya. “Toh pada akhirnya kamu sendiri yang harus merapikannya.” Akhirnya ia mulai memutar lagu kesayangannya, “If Aint Got U” single dari Alicia Keys. Sambil berbaring ia memandang langit-langit kamarnya yang hitam kelam dengan pernak-pernik bintang yang menerangi.
Some people live for the fortune
Some people live just for the fame
Some people live for the power yea
Some people live just to play the game
Some people think that the physical things define us within
Resha menerawang jauh, mengingat kembali komentar pedas dan tatapan aneh dari semua orang dalam satu hari.
Kenapa sih semua orang di rumah ini hanya memikirkan nilai, nilai dan nilai? Tak adakah hal lain yang bisa dibanggakan dari diriku? Tak adakah yang perduli akan kejujuranku, sikap rela berkorban atau kerja kerasku selama ini?
Terbayang kembali olehnya kata-kata Ibu,
” ..Kamu sudah kelas 3. Waktunya memikirkan masa depanmu!”
”Aaarrgghh..forget about it! Aku tahu itu..!!” Ia segera menarik selimut dan berharap ia segera terlelap tanpa harus bermimpi buruk.
***
Pagi yang cerah, matahari malu-malu menampakkan sosoknya, burung-burung berkicau dengan riang dan udara pagi terasa begitu segar. “Hmm..mungkin jalan-jalan pagi bisa mengobati hatiku.” Gumam Resha, seraya membuka jendela memandangi jalan yang masih sepi.
Taman Surya masih sepi, tak banyak orang yang datang untuk menikmati pagi yang cerah. Mereka lebih memilih meringkuk di bawah selimut hangat daripada keluar untuk menghirup udara segar. Hanya ada sepasang suami istri bersama anaknya, seorang pria tua yang sedang membersihkan taman, dan seorang nenek yang terlihat sedang duduk termenung di sebuah bangku kayu.
Entah mengapa, Resha merasa terusik untuk menyapa nenek tersebut. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk menyapanya.
“Selamat pagi, Nek..” sapa Resha ramah. Nenek itu menoleh dan tersenyum, “Selamat pagi, silakan duduk.” Dengan segera Resha memilih duduk di sebelah nenek itu. “Pagi yang cerah ya Nek. Nenek sering kesini?” tanya Resha membuak pembicaraan. “Yaa..setiap Minggu Nenek pergi kesini…Nenek suka dengan suasana taman ini di pagi hari, tenang dan damai..” Resha mengangguk menyetujui. “Tapi rasanya baru kali ini Nenek melihat wajahmu…Apakah kamu pernah kesini?” Resha tersipu malu, “Sebenarnya saya baru pertama kali kesini, walau sudah bertahun-tahun saya tinggal disini. Rumah saya di ujung jalan itu.” Ujar Resha sambil menunjuk sebuah jalan menuju rumahnya. “Benarkah? Jangan-jangan kamu putrinya Bu Rosa?”
Resha mengangguk pelan. Ibunya memang banyak dikenal tetangganya karena sikapnya yang ramah, luwes dan baik hati. Berbeda dari ibunya, Resha bukanlah jenis orang yang bisa beradaptasi dengan mudah di lingkungannya, walaupun sudah bertahun-tahun.
“Benar, saya memang putrinya.”
“Aahh…kalau begitu kamu pasti Resha ya?”
Kali ini Resha yang terperanjat saat mendengar nenek itu mengenalinya. Resha bisa mengerti bila nenek itu mengerti tentang ibunya, tapi tentang Resha..??
“Nenek sering mendengar tentangmu dari ibumu. Kamu anak yang baik dan pintar, tak heran ibumu sangat membanggakanmu.” Lagi-lagi Resha terkejut.
Ibu? Ibu membanggakanku? Bukannya ibu selalu mencelaku dan membanding-bandingkan aku dengan kakak-kakakku? Pasti ada sesuatu yang salah…
“Mmm..mungkin Nenek salah mengerti, mungkin yang dimaksud ibu adalah Mbak Risha..Nama kami memang mirip.”
Nenek itu menggeleng pelan, dan terus menatap Resha.
“Tidak, tidak…Nenek juga pernah mendengar ibumu menceritakan tentang Risha, tapi tidak sesering kamu.”
Ibu menceritakan aku lebih banyak daripada Mbak Risha? Ga mungkin..!!
“Ibumu bilang, Resha anak yang baik, ia penurut, rajin belajar, dan selalu mendapat peringkat yang terbaik di kelasnya…”
Ya.. sebelum pada akhirnya kecewa karena nilaiku yang dianggap pas-pasan oleh mereka.
“Beliau juga berkata, Resha juga anak yang jujur, baik hati dan berbakti pada orangtua. Alangkah senangnya Nenek bila mempunyai cucu seperti kamu.” Ujar nenek itu sambil menerawang jauh, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Memangnya dimana cucu Nenek?”
“Mereka ada di luar negeri, ikut bersama anakku satu-satunya. Setahun sekali mereka datang mengunjungi. Nenek tinggal sendiri bersama pembantu yang sudah menemani Nenek selama 10 tahun..”
Pasti nenek ini kesepian..Tanpa anak dan cucu, apakah nantinya di masa tuaku aku bisa hidup..?
”Dimana Nenek tinggal?”
”Kau tahu rumah kecil di dekat sini yang ada kebun mawarnya? Di situ Nenek tinggal.”
“Yang ada bunga mawar putihnya?”
“Ya, kau tahu?”
“Umm…saya sering memperhatikannya. Saya suka sekali dengan mawar putih, jadi saya takjub melihat ada sekumpulan mawar putih di kebun anda. Cantik sekali.”
“Bila kau mau, kau petik saja sesuka hatimu di rumah Nenek.”
Resha terkejut sekaligus senang, ia memang sering membayangkan bunga mawar putih di atas meja belajarnya, dan ia tempatkan di vas hijau favoritnya.
”Mmm..benarkah? Wah, terima kasih banyak, Nek!!”
Nenek itu mengangguk dan tersenyum ramah.
”Ayo, kita petik sekarang, kau bisa memilih dan memetik sesuka hatimu.”
”Baik..!!”
***
”Bagaimana, kau suka?”
”Suka banget, Nek! Makasih banyak ya Nek…”
”Sama-sama…Nenek senang melihatmu tersenyum begitu, tidak seperti tadi, kau terlihat sedang memendam masalah. Bukan begitu?”
”Kok Nenek tau?”
Nenek menghela nafas sejenak, menerawang jauh memandang ke arah kebun mawarnya. ”Nenek ini sudah tua, sudah banyak mengenal orang dan tiap peringainya. Seseorang bisa diketahui suasana hatinya dari raut wajahnya.”
Resha memandangi bunga-bunga mawarnya. Pikirannya kembali mengingat hari kemarin.
”Iya, saya merasa tak dihargai oleh keluarga, terutama oleh ibu, hanya karena nilai rapor yang tak memuaskan. Saya merasa bahwa usaha saya selama ini sia-sia, ibu hanya memandang dari satu sisi saja.”
Nenek itu mendengarkan dengan seksama, mengangguk-angguk pelan.
”Saya tahu perasaanmu. Pasti sakit rasanya tidak dihargai oleh orang yang paling kau hormati. Tapi mengertilah Nak Resha, nilai-nilai lain dalam dirimu yang kau punya harus kau jaga dan kau kembangkan, tak perduli apapun pendapat orang lain. Jangan mengharap pujian, karena pujian itu bisa menjatuhkanmu. Banyak orang yang terbuai oleh pujian, namun pada akhirnya jatuh karena tak bisa menjaga kualitas dirinya. Dari kritik yang kau peroleh, kau akan tahu apa yang salah dan apa yang benar, sehingga kau bisa bersikap yang seharusnya.”
Sekejap Resha merasa lega, kini ia mengerti bahwa tindakan ibunya tak sepenuhnya salah, ia hanya perlu melihat dari sisi yang lain.
”Terima kasih Nek, saya jadi merasa optimis lagi. Saya akan buktikan pada semuanya kalau saya bisa menunjukkan yang terbaik untuk mereka. Semua kritik yang saya terima akan saya gunakan sebagai alat untuk meningkatkan prestasi saya. Terima kasih ya Nek!”
”Semoga berhasil ya..Nenek titip salam untuk ibumu.”
***
”Darimana Sha?”
”Dari rumah nenek di ujung jalan itu, Bu. Resha boleh memetik bunga-bunga mawar putih ini, katanya.”
”Nenek yang mana? Kok Ibu ga pernah liat?”
”Ibu lupa, mungkin. Itu loh, rumah yang kebun mawarnya. Beliau kenal ko sama Ibu.”
”Mungkin yang kamu maksud Nenek Olivia? Beliau memang tinggal di situ…Tunggu dulu, bukannya Nenek Olivia itu sudah meninggal seminggu yang lalu?”
Resha terperanjat, bila nenek itu yang dimaksud, lalu siapa yang berbincang-bincang dengannya tadi pagi?
”Resha, kamu pasti bisa menunjukkan bahwa kamu yang terbaik…” sesaat ada bisikan lembut di telinga Resha. Suara Nenek Olivia. Resha mendongak ke arah langit biru. Ia temukan wajah Nenek Olivia dengan senyumnya yang tulus.
