mellow, orisinilJune 25, 2005 6:10 am

”Sial..!!” keluh Clea sambil emnghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Di dalam kamarnya yang dicat biru langit, terbayang lagi olehnya wajah tampan Fay yang merah padahm karena cemburu. Ya, sore itu ia melihat Clea sedang bersama Pey, berdua saja di kafetaria dengan diselingi canda mesra antara keduanya.

”Clea…!!” terngiang kembali teriakan Fay memanggil dirinya. Sial, dia lupa Fay ada kegiatan OSIS hari ini. Ia hanya ingat pada Pey dan janjinya untuk bertemu sore itu.

Ia tak pernah melihat ekspresi Fay seperti itu. Sikap Fay yang sempurna, baik, lemah lembut, dan tak pernah berbicara kasar pada orang lain entah kemana sore itu…
Oops, itu Fay..!! Sial, kenapa dia ada disini?? Duhh, harus ngomong apa aku nanti..?

Seketika itu juga Fay pergi, tak perduli sekeras apapun Fay memanggil. Clea teringat lagi akan Fay yang memandangnya dengan tajam, menyiratkan hatinya yang sedang terluka…

***
“Clea…Kamu mau ga jadi pacarku?”
Tiga bulan yang lalu, di suatu sore. Fay, idaman semua siswi di SMA Maltese, memilih Clea sebagai kekasihnya. Clea pun menerima Fay sebagai pacar. Namun lambat laun Clea menyadari, ada yang salah di antara hubungan mereka. Clea merasa, Fay terlalu baik dan sempurna. Ia tak pernah marah dan selalu menuruti keinginan Clea. Sebenarnya ia ingin membuat Fay bisa menunjukkan emosi atau kecewa seperti orang lain, tapi selalu gagal. Fay tetaplah orang yang sangat baik, sampai saat itu…

Dan ketika Clea mengikuti kegiatan ekstrakulikuler drama, ia bertemu dengan Pey. Pey mulai mendekati Clea setelah pementasan drama ”Hamlet”. Awalnya ia tak perduli, apalagi saat itu ia baru saja menjalin hubungan dengan Fay. Namun bukan Pey namanya bila menyerah begitu saja. Setiap hari, tanpa sepengetahuan Fay, Pey mengirimkan pesan-pesan romantis untuk Clea, entah pesan pribadi atau di mading sekolah.

Senja hadir untuk menemani rasa sepiku
Namun saat kulihat senyuman seorang jelita
Kusadari bahwa sejuta senja pun tak mampu menandinginya…

Untuk Clea

”Wah, ternyata ada yang ngefans kamu tuh, Clea!” sahut Fay suatu kemudian. Clea menatap Fay, mencari tanda-tanda cemburu dalam dirinya. Sia-sia, Fay malah tersenyum manis seolah tak terjadi apa-apa.
”Entah terbuat dari apa Fay ini, sampai-sampai cemburu pun tak bisa…” gumam Clea saat itu.

Dan tepat sebulan yang lalu, Clea mengakui bahwa perhatian yang diberikan Pey padanya memang tulus dan hanya untuknya. Clea mengakui, selama bersama Pey, ada hal-hal yang saat bersama Fay tak bisa dilakukannya. Bersama Pey, Clea merasa sangat nyaman…

***

Dan sejak Fay memergoki Clea sedang berduaan dengan Pey, Fay selalu diam dan menghindar. Entah bagaimana Clea harus bersikap. Ia menyesali kebodohan dirinya sendiri. Ia ingin meminta maaf, tapi tak pernah sekalipun ia digubris. Fay semakin sibuk dengan kegiatannya sendiri sebagai Ketua OSIS.

Aku ga bisa terus-terusan kaya gini. Aku harus buat keputusan…
Aku ga bisa terus-terusan mendua dengan Fay atau Pey…
Tapi…mereka sama-sama berharga bagiku…

Clea mengingat-ingat kenangan indahnya dengan Fay. Segala mimpinya menjadi tuan puteri terpenuhi. Kencan yang romantis ia lalui. Pergi ke festival kembang api, candle light dinner, atau sekedar duduk di pinggir jalan, memandangi kerlip lampu kota…
Bayangan Fay berganti menjadi Pey. Pey yang berpenampilan sangar namun ternyata sangat gentleman dan berhati lembut. Tak segan-segan ia menunggu Clea hanya untuk mengajaknya untuk mengantarkannya pulang. Apapun ia lakukan demi Clea…

“Ahh..pusing!!”
Aku lelah…
Aku masih sayang sama Fay, tapi di sisi lain…
Aku juga tak ingin berpisah dengan Pey…
Jadi…??
Hanya ada satu pilihan terakhir…

***
Sabtu sore, Clea mengajak Pey bertemu. Pey tak percaya saat Clea memintanya untuk berpisah. “Kenapa, Clea?? Kenapa harus putus..??” Clea hanya terdiam, matanya mulai memanas, ingin menangis rasanya, tapi ia coba untuk tegar…
Sebenernya aku juga ga rela untuk putus, Pey…
”Karena…Aku ngerasa aku ngga bisa cocok sama kamu. Itu aja.”
Pey memukulkan tinjunya ke tembok. ”Alasan apa itu..??” Matanya merah, raut wajahnya tegang, dan pelan-pelan ia menatap Clea kembali. Ingin rasanya ia meminta Clea menarik ucapannya, dan berkata padanya sambil tertawa terbahak-bahak kalau ia cuma bercanda. Tapi Clea hanya menunduk, ia tak berani memandang Pey.
”Maaf Pey, aku harus pulang…”
”Aku antar ya…”
Clea menggelengkan kepalanya.
”Ngga usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Dan Clea pun meninggalkan Pey dengan torehan luka mendalam di hati…

***
Setelah berkali-kali menelepon, mengirimkan pesan dan mengajaknya bertemu, hari ini ia bisa bertemu dan berbicara dengan Fay.
”Fay, ada yang harus kubicarain sama kamu.”
”Ngga ada yang perlu dibicarain lagi.” tepis Fay ketus.
Clea cukup terperanjat dengan sikap Fay itu. Tapi ia mengerti, Fay masih marah padanya.
“Fay, dengerin aku. Aku ke sini cuma mau minta maaf dan…mau bilang kalo kita putus aja.” ucap Clea pada akhirnya. Tersirat rasa sesal sekaligus lega dalam ucapannya. Ia pandangi raut wajah Fay yang awalnya dingin berubah terkejut dan ada sorot mata sedih di matanya.
”Apa..??”
Sesaat Fay terdiam, samapi pada akhinya sorot matanya yang dingin meredup.
“Maaf Fay, aku ga bisa lama-lama. Aku harus pergi.” Tanpa menunggu persetujuan Fay, Clea segera meninggalkannya sendiri. Clea tak ingin berlama-lama di situ, pandangannya mengabur dan ia tak ingin menunggu sampai air matanya jatuh di depan Fay.
Hujan turun deras setelah itu. Fay tetap terdiam di tempat. Kembali terngiang kata-kata Clea.
”Aku ke sini cuma mau minta maaf dan… mau bilang kalo kita putus aja.”

***
Telepon berdering di rumah Fay, yang notabene juga rumah Pey. Sejak Fay tahu Clea berpacaran dengan adiknya, Fay selalu menghindar dari Pey. Apapun ucapan Pey, dia tak mau mendengarnya.
“Kriinggg..!!”
“Fay…Angkat telponnya!!” teriak Pey dari kamar mandi. Tanpa banyak bicara ia mengangkat gagang telepon.
“Halo.”
“Halo, benar disini rumah Fay?”
“Ya, saya sendiri. Dari siapa?”
“Saya kakak Clea. Saya…” sesaat terdengar isak tangis disana.
“Clea meninggal sore tadi…Jam 5 sore tepatnya…”
Gagang teleponnya terjatuh, jantung Fay serasa mau berhenti. Ia tak bisa berkata apa-apa. Pey ganti mengangkat teleponnya.
“Ya ada apa?”
“Maaf, pemakaman akan dilakukan besok pagi, semoga Anda berkenan datang..”
“Hei tunggu..!! Siapa yang meninggal??” Tapi telepon sudah terlanjur ditutup. Sesaat Fay berbisik, “Clea…”
“Apaa..?? Fay, kamu bercanda kan?? Ngga mungkin! Clea baek-baek aja ko tadi! Ngga…lelucon ini sama sekali ngga lucu, Fay!”
Ingin rasanya Pey meninju wajah tampan kakaknya, mengira bahwa Fay hanya bercanda. Tapi wajah pucatnya dan sorot mata Fay yang kosong memberi arti bahwa ia sama sekali tidak bercanda.
“Tidak mungkiiinnn…!!!!” teriak Pey, menggelegar seiring menembus rintik hujan yang semakin deras.

***
Pagi itu mereka bersama-sama tiba di rumah Clea. Mereka masih saja terdiam satu sama lain. Dan…benar saja! Suasana duka menyelimuti seluruh penjuru rumah Clea. Yang ada hanya isak tangis, orang-orang yang berpakaian hitam dan ucapan belasungkawa dari mulut para pelayat.

Berdasarkan keterangan dari ibu Clea, sore itu Clea mengendarai mobil milik ayahnya untuk mengantarkan adiknya les. Saat akan pulang ke rumah, dari arah yang berlawanan tiba-tiba ada truk yang melaju tinggi ke arah mobil Clea. Tabrakan tak bisa dihindari, Clea dibawa ke rumah sakit secepatnya, namun sayang ia hanya bisa bertahan sebentar saja sebelum ia kembali ke pangkuan-Nya…

Kini Fay dan Pey hanya bisa menyesali diri, mereka telah kehilangan gadis yang mereka cintai, selamanya…Tetes mata dan ratapan mereka yang ditinggalkan oleh Clea tak akan pernah bisa mengembalikan Clea lagi…
”Selamat tinggal, Sayang…” bisik mereka di pemakamannya.

UncategorizedJune 15, 2005 12:34 pm

orisinilJune 9, 2005 10:08 am

Seminggu yang lalu…

Di suatu kafe, sore-sore saat hujan rintik-rintik mengguyur bumi. Di sudut kafe, tampak dua orang perempuan sedang berbincang-bincang.
“Ra, aku kemaren ketemu Arvin! Dia lagi gandengan ma cewek gitu! Kayanya aku pernah liat deh tu cewe..tapi sapa ya?” cerocos Anya tiada henti.
Dara dengan santainya mengaduk milk shake mocca-nya dan menyeruputnya hingga tak berbekas.
“Ra..kamu denger ga sih omongan aku?” ujar Anya sebal.
Sedari tadi yang dilakukan Dara hanyalah memainkan sedotan biru di gelas milk shakenya dan menyeruputnya perlahan-lahan.
“Aku denger kok, Nya..”
“Emang apa yang aku omongin?”
“Kamu cerita soal Arvin kan..Dia lagi gandengan ma cewek..Gitu kan Nya?” jelas Dara perlahan sambil menatap Anya.
“Tumben kamu denger Ra, biasanya kan kuping kamu bolot banget.” ejek Anya.
“Jangan ngejek gitu dong Nya, gini-gini kupingku masih normal. Trus apa hubungannya denganku Nya?”
“Loh..bukannya Arvin tu pacar kamu Ra? Kok kamu nyante banget gitu?”
Dara tersenyum tipis, memotong-motong cheese cake yang terhidang di hadapannya. Senyumnya terlihat sedih. Tampak bila ia
berusaha menguatkan dirinya sendiri. Lagu My Endless Love milik Diana Ross mengalun di dalam keheningan The Rainbow Cafe.
Lamat-lamat memori tentang dia dan Arvin kembali mengalir.
“Kemarin masih iya, Nya..”
“Jadi..kamu da putus ma Arvin, Ra?? Kenapa? Kenapa kamu ga bilang aku, Ra??”
“Kan kemaren kamu baru ketemuan sama Devon, Nya.. Aku ngga mau ngganggu kamu dengan cerita aku..”
Hening sesaat.
“Aku putus sama Arvin karena aku pernah mergokin dia bareng sama Reta, mesra banget..Waktu aku samperin, dia ngebentak-bentak ga jelas gitu. Padahal aku cuma nanya kenapa dia ga bilang aku kalo dia pergi bareng Reta..”
“Jadi…Arvin sama Reta..?? Pantesan aku ngerasa pernah ngeliat cewe itu yang jalan bareng Arvin..”
Dara menunduk. Bulir-bulir air mata dengan segera ia hapus.
“Ra, kamu ngga sedih?”
Dara termenung sesaat. Matanya kembali berkaca-kaca. Hatinya yang terluka terasa sakitnya lagi.
“Kalo aku bilang ngga sedih, berarti aku boong, Nya. Tapi aku ga bisa sedih terus-terusan. Show must go on.”
Anya menggenggam tangan Dara dengan rasa penuh persahabatan.
“Ra, if you need a shoulder to cry on, you’ll get mine.”
Dara menahan air matanya, ia tak ingin menangis lagi gara-gara Arvin.
“Makasih ya Nya, kamu emang sahabat terbaikku.” hangatnya persahabatan menghapuskan lara di hati Dara. Pelangi benar-benar
mengobati sakit Dara.

***

Tiga hari yang lalu…

“Pokoknya ya Ra, kamu harus lebih pe-de, lebih terawat en lebih siap untuk ngejalanin hidup kamu! Buat Arvin nyesel kalo dia telah
menyia-nyiakan seorang wanita cantik yang tak ternilai harganya.” ujar Anya sambil menghapus air mata Dara saat Dara lagi-lagi
menangis ketika bertanya-tanya mengapa Arvin berpaling darinya.

Dua hari yang lalu…

“Pertama-tama, kita ke butik dan mall! Aku tau tempat-tempat yang bagus buat baju dan aksesoris buat kamu!” ujar Anya berapi-api.
Dara cuma bisa pasrah, apapun alasannya, tak ada yang bisa membuat Anya untuk membatalkan niatnya. Setelah mengunjungi
beberapa butik dan mall, Anya menemukan gaun yang tepat dan bisa diterima Dara. Seketika itu juga Anya mengambil dan membawanya ke kasir. “Ouch..harganya mahal banget..batalin aja deh Nya..” bisik Dara. Tapi Anya menggeleng kuat-kuat, “Aku yang bayar kok! Itung-itung sebagai hadiah untuk seorang sahabat,” ucap Anya sambil menyerahkan gaun baby blue tanpa lengan yang cantik itu pada Dara. “Tapi Nya…ini terlalu bagus deh buat aku..” tepis Dara. Dara memandangi gaun baby blue itu sekali lagi. Ia membayangkan dirinya dalam balutan gaun itu, terlihat sangat cantik…Lamunannya buyar seketika saat Anya menepuk bahunya.

“Bagus kan? Aku bisa bayangin kalo kamu pake baju ini, kamu bakal terlihat perfect!” ucap Anya bersemangat. “Bener ini buat aku, Nya..?” ujar Dara takut-takut. Anya memandangnya aneh, “Ya iyalah Dara cantik..!! Ini kan aku belikan khusus buat kamu! Aku belum kasih kado waktu ulang tahunmu kemaren kan? Anggap aja ini kado yang kemaren ok!”

3 jam yang lalu…

“Sekarang kita ke salon ya!” Dara hanya mengangguk pelan, dia sudah berjanji untuk menuruti apapun kata Anya selama 3 hari ini.
Dan entah kenapa, Anya meminta Dara untuk membawa gaunnya, dan beberapa aksesori yang ia anggap bagus untuk dikenakan.

“Ra, sekarang kan ultahku, dan permintaanku saat ini adalah mengubahmu menjadi wanita paling cantik di kota ini!” ujar Anya sambil menatap Dara berbinar-binar. “Kenapa harus gitu sih..?” Anya cuma tersenyum, sepertinya ia merencanakan sesuatu…

Sejam yang lalu…

Di pesta Anya, Dara bertemu dengan Arvin. Tapi dia sendirian, tak terlihat Reta yang ia lihat menggelayut manja di lengan Arvin minggu kemarin. Dan saat itu juga Dara tahu, bagaimana Arvin terperangah dan jelas-jelas tak menyangka Dara akan tampil secantik itu. Alunan musik yang lembut menyemarakkan suasana bagi pasangan-pasangan yang ingin berdansa. Tanpa disangka-sangka Arvin mengajaknya ‘turun’. Dara memandang sekeliling, mencari-cari dimana Anya berada. Tak kelihatan.
“Ada pacar kamu?”
Suara Arvin mengejutkan Dara. Masih ada rasa di hati Dara ketika mendengar suara itu lagi. Suara yang dirindukannya sekaligus pernah memporak-porandakan hatinya..
Dara menggeleng, mencoba menatap mata elang milik Arvin.

Hmm..Arvin masih saja tampan..

“Aku cuma mau nyari Anya, tapi kayanya dia ga ada.”
“Kalo gitu kita dansa sebentar yuk, siapa tahu nanti bisa ketemu Anya.”
Tanpa basa-basi Arvin meraih tangan Dara dan mengajaknya slow dance.
“Seminggu setelah kita putus aku baru menyadari Ra…Kalo ternyata cuma kamu yang ada di hati aku…”
bisik Arvin di telinga Dara. Menggelitik tak hanya di telinga, tapi juga di kuncup bunga di hatinya yang pernah layu karena Arvin.
“Ra, mau ngga kamu balik sama aku?”
Dara terbelalak, tak menyangka bila Arvin yang seminggu yang lalu mencampakkannya demi Reta mengemis-ngemis demi mendapatkan Dara kembali.
“…”
“Aku emang pernah berbuat salah, Ra.. Tapi mau ngga kamu maafin aku? Please…”
“…”
“Ra, aku butuh kepastianmu sekarang.”
Dara menunduk dan memandangi sepatu high heels silver yang ia pakai, gelang perak berhiaskan batu permata imitasi berwarna biru
yang dengan cantik menghiasi lengan mungilnya, gaun berwarna baby blue tanpa lengan, terbuat dari sutra dan dengan indah mengikuti lekuk tubuhnya yang semampai.

Haruskah aku terima dia kembali? bagaimana jika dia mengkhianatiku sekali lagi? Aku juga masih sayang sama Arvin…Tapi…Tapi…

Dara mendongak memandangi Arvin, tapi Arvin terlihat emandang ke arah lain, dan sepertinya tertuju pada seorang gadis cantik yang berpakaian minim. Seketika Dara tahu, apa yang harus ia lakukan.

***

“Nya, kemaren aku ketemu Arvin. Dia ngajak balik.”
Dara dan Anya sama-sama berada di TK tempat Dara bekerja sebagai guru pembantu. Mereka sedang istirahat setelah beberapa jam bermain dengan murid-muridnya.
“Lalu…? Kamu terima gituh?”
Dara mengeluarkan sebuah kotak, yang berisi sepatu high heels silver yang ia pakai di pesta Anya.
“Waktu aku mau nerima ajakan dia, dia lagi ngelirik cewek lain. Saat itu juga aku injak kakinya dengan sepatu ini, dan aku langsung pergi meninggalkannya. Aku tak perduli dengan kata orang-orang. Rasanya puas sekali!”
Dara tersenyum puas, Anya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memandang kagum pada Dara.
“Gila lo Ra, ternyata bisa juga kaya gitu! Biar jadi pelajaran deh buat buaya darat itu, gimana rasanya nyakitin cewek..”
“Dan tau ga, setelah pulang dari pestamu, aku ketemu sama Rhizo..Terus aku dianterin pulang sama dia…”
“Wah..kayanya sebentar lagi aku punya kakak ipar nih..!!” goda Anya.
Dara tersipu malu, dan Anya pun semakin gencar untuk menggodanya.
“Psst…sebenernya aku ngga nyuruh Rhizo jemput kamu, tapi kaya’nya dia udah lama merhatiin kamu sejak kamu ke rumahku dulu…”
Hari yang indah, karena pelangi itu hadir di sini, di hati Dara…

mellowJune 7, 2005 4:29 am

Ini adalah salah satu bentuk cerpenku yang tertunda. Mungkin bukan yang terbaik, tapi moga-moga bisa jadi pemicu untuk terus membuat cerpen baru yang lebih bagus dan lebih bermakna.

Harapan di Suatu Pagi

Resha hanya terdiam, terlihat dari raut wajahnya ada sesuatu yang mengganggu. “Apa yang membuat seorang putri membiarkan kecantikannya menjauh darinya? Adakah sesuatu yang bisa membuat sang putri tersenyum kembali dan menyinari dunia lagi?” goda Inka, sahabatnya yang suka sekali melontarkan puisi dan kata-kata puitis lainnya. Resha hanya memandang sekejap, kemudian melengos kembali. Tampak bila Resha tidak ingin diganggu saat itu.

Menyadari hal itu, Inka mencoba mengalihkan perhatian Resha. “Sha, liat rapormu donk! Aku pengen liat sapa yang menang kali ini.” Kata Inka nyengir. Mendengar kata dan segala sesuatu yang berhubungan dengan rapor dan nilainya kali ini, Resha semakin terlihat jutek. “Udah ah, ga usah ngomongin itu lagi!” ujar Resha ketus. Ia segera meninggalkan bangkunya dan menuju perpustakaan.

***

Resha terlihat sibuk memilih buku yang akan dibacanya. Secara tidak sadar, tangannya meraih buku yang berhubungan dengan prestasi seorang ilmuwan dalam pengembangan suatu teori. Judul bukunya saja sudah membuat Resha sebal. Diambilnya buku yang lain. Kali ini berhubungan dengan biografi seorang sastrawan yang sukses. Resha melihat tak ada buku lain yang menarik minatnya. Segera saja ia mengambil koran terbaru hari ini.

Lembar demi lembar ia baca, tapi tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Pikirannya masih melayang mengingat rapor yang dibagikan hari ini. Terbayang olehnya nilai 7 yang banyak menghiasi lembaran kertas yang dibagikan gurunya tadi. Terbayang kembali raut wajah gurunya yang terlihat heran oleh nilai yang didapatkan Resha. Tak biasanya Resha Kharisma yang juara kelas dan aktif di kelasnya hanya mendapat 7 untuk beberapa mata pelajaran yang dikuasainya.

Resha semakin sebal mengingatnya. Terbayang olehnya raut wajah orang tuanya yang akan sangat kecewa melihat prestasinya yang mereka anggap pas-pasan itu. Resha tahu, teman-temannya pun pasti bertanya-tanya apa yang terjadi pada Resha, mengingat Resha adalah anak terpintar di kelas IPA 1, kelas dimana anak-anak pintar di bidangnya berkumpul.

***

Sekolah cepat sekali berlalu, bagi Resha. Dan saat kepulangannya adalah suatu beban bagi Resha. Hari ini semua anggota keluarga di keluarga Resha berkumpul. Ayahnya, Ibunya, Mbak Risha, dan Mas Reza. Semua orang yang selama ini jarang berkumpul karena kesibukannya masing-masing seperti datang untuk menyidang Resha. Resha heran, mengapa mereka baru bisa datang dan berkumpul saat Resha tidak ingin diganggu? Ayah dan Ibunya yang pengacara terkenal, Mbak Risha yang seorang dosen bahasa Inggris, dan Mas Reza yang seorang pengusaha sukses di bidang property jarang sekali berkumpul seperti layaknya keluarga. Mereka hanya datang saat waktu-waktu tertentu, seperti saat ini, saat yang paling dibenci Resha karena kehadiran keluarganya.

***

“Ouch, semua orang telah hadir disini. Selamat datang di Persidangan Keluarga Resha..”batin Resha, melihat semua orang ada di ruang tamu, asyik mengobrol.

“Selamat datang, Resha. Bagaimana rapornya?” Tanya Ibu, dengan senyum mengembang. Entah mengapa Ibu selalu saja tersenyum sebelum melengkungkan senyumnya menjadi lengkungan kurva yang menjadi awal pertanda yang buruk.

Pertanyaan bagus, tanpa basa-basi lagi.

“Biasa aja Bu. Ngga ada yang bagus.” Ujar Resha, sebisa mungkin menunjukkan nada yang datar.

“Coba lihat.”

Dan benar saja, saat Ayah, Ibu, Mas Reza dan Mbak Risha melihat buku rapornya, dan tak melihat adanya perkembangan bagus dari Resha, spontan mereka bertanya.

“Kok 7 semua?”

Resha mengambil air di kulkas, dan duduk di antara mereka. “Mau bagaimana lagi, hanya segitu yang bisa Resha tunjukkan.” “Ada yang salah kali, mungkin salah tulis ato gimana.”ucap Ibu, seolah tak percaya. “Ngga ko. Resha udah tanya ke wali kelas Resha. Emang segitu nilai Resha.”jawab Resha, mencoba untuk tenang.

Semua terdiam. “Ya sudahlah, semester depan kamu harus meningkatkan prestasimu. Jangan terlalu banyak begadang dan baca komik. Kamu sudah kelas 3. Waktunya memikirkan masa depanmu.” Nasehat Ibu. Resha hanya diam, tak sedikitpun memandang ibunya. Ia bosan diceramahi terus-menerus.

“Resha ke kamar dulu.” Ujar Resha segera beranjak ke kamar.

***
“Brakkk..!!”
Sekuat tenaga ia membanting pintu kamarnya dengan penuh emosi. Sebenarnya ia ingin membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya, tapi akal sehatnya melarangnya. “Toh pada akhirnya kamu sendiri yang harus merapikannya.” Akhirnya ia mulai memutar lagu kesayangannya, “If Aint Got U” single dari Alicia Keys. Sambil berbaring ia memandang langit-langit kamarnya yang hitam kelam dengan pernak-pernik bintang yang menerangi.

Some people live for the fortune
Some people live just for the fame
Some people live for the power yea
Some people live just to play the game
Some people think that the physical things define us within

Resha menerawang jauh, mengingat kembali komentar pedas dan tatapan aneh dari semua orang dalam satu hari.
Kenapa sih semua orang di rumah ini hanya memikirkan nilai, nilai dan nilai? Tak adakah hal lain yang bisa dibanggakan dari diriku? Tak adakah yang perduli akan kejujuranku, sikap rela berkorban atau kerja kerasku selama ini?
Terbayang kembali olehnya kata-kata Ibu,
” ..Kamu sudah kelas 3. Waktunya memikirkan masa depanmu!”
”Aaarrgghh..forget about it! Aku tahu itu..!!” Ia segera menarik selimut dan berharap ia segera terlelap tanpa harus bermimpi buruk.

***

Pagi yang cerah, matahari malu-malu menampakkan sosoknya, burung-burung berkicau dengan riang dan udara pagi terasa begitu segar. “Hmm..mungkin jalan-jalan pagi bisa mengobati hatiku.” Gumam Resha, seraya membuka jendela memandangi jalan yang masih sepi.

Taman Surya masih sepi, tak banyak orang yang datang untuk menikmati pagi yang cerah. Mereka lebih memilih meringkuk di bawah selimut hangat daripada keluar untuk menghirup udara segar. Hanya ada sepasang suami istri bersama anaknya, seorang pria tua yang sedang membersihkan taman, dan seorang nenek yang terlihat sedang duduk termenung di sebuah bangku kayu.

Entah mengapa, Resha merasa terusik untuk menyapa nenek tersebut. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk menyapanya.
“Selamat pagi, Nek..” sapa Resha ramah. Nenek itu menoleh dan tersenyum, “Selamat pagi, silakan duduk.” Dengan segera Resha memilih duduk di sebelah nenek itu. “Pagi yang cerah ya Nek. Nenek sering kesini?” tanya Resha membuak pembicaraan. “Yaa..setiap Minggu Nenek pergi kesini…Nenek suka dengan suasana taman ini di pagi hari, tenang dan damai..” Resha mengangguk menyetujui. “Tapi rasanya baru kali ini Nenek melihat wajahmu…Apakah kamu pernah kesini?” Resha tersipu malu, “Sebenarnya saya baru pertama kali kesini, walau sudah bertahun-tahun saya tinggal disini. Rumah saya di ujung jalan itu.” Ujar Resha sambil menunjuk sebuah jalan menuju rumahnya. “Benarkah? Jangan-jangan kamu putrinya Bu Rosa?”
Resha mengangguk pelan. Ibunya memang banyak dikenal tetangganya karena sikapnya yang ramah, luwes dan baik hati. Berbeda dari ibunya, Resha bukanlah jenis orang yang bisa beradaptasi dengan mudah di lingkungannya, walaupun sudah bertahun-tahun.
“Benar, saya memang putrinya.”
“Aahh…kalau begitu kamu pasti Resha ya?”
Kali ini Resha yang terperanjat saat mendengar nenek itu mengenalinya. Resha bisa mengerti bila nenek itu mengerti tentang ibunya, tapi tentang Resha..??
“Nenek sering mendengar tentangmu dari ibumu. Kamu anak yang baik dan pintar, tak heran ibumu sangat membanggakanmu.” Lagi-lagi Resha terkejut.
Ibu? Ibu membanggakanku? Bukannya ibu selalu mencelaku dan membanding-bandingkan aku dengan kakak-kakakku? Pasti ada sesuatu yang salah…
“Mmm..mungkin Nenek salah mengerti, mungkin yang dimaksud ibu adalah Mbak Risha..Nama kami memang mirip.”
Nenek itu menggeleng pelan, dan terus menatap Resha.
“Tidak, tidak…Nenek juga pernah mendengar ibumu menceritakan tentang Risha, tapi tidak sesering kamu.”
Ibu menceritakan aku lebih banyak daripada Mbak Risha? Ga mungkin..!!
“Ibumu bilang, Resha anak yang baik, ia penurut, rajin belajar, dan selalu mendapat peringkat yang terbaik di kelasnya…”
Ya.. sebelum pada akhirnya kecewa karena nilaiku yang dianggap pas-pasan oleh mereka.
“Beliau juga berkata, Resha juga anak yang jujur, baik hati dan berbakti pada orangtua. Alangkah senangnya Nenek bila mempunyai cucu seperti kamu.” Ujar nenek itu sambil menerawang jauh, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Memangnya dimana cucu Nenek?”
“Mereka ada di luar negeri, ikut bersama anakku satu-satunya. Setahun sekali mereka datang mengunjungi. Nenek tinggal sendiri bersama pembantu yang sudah menemani Nenek selama 10 tahun..”
Pasti nenek ini kesepian..Tanpa anak dan cucu, apakah nantinya di masa tuaku aku bisa hidup..?
”Dimana Nenek tinggal?”
”Kau tahu rumah kecil di dekat sini yang ada kebun mawarnya? Di situ Nenek tinggal.”
“Yang ada bunga mawar putihnya?”
“Ya, kau tahu?”
“Umm…saya sering memperhatikannya. Saya suka sekali dengan mawar putih, jadi saya takjub melihat ada sekumpulan mawar putih di kebun anda. Cantik sekali.”
“Bila kau mau, kau petik saja sesuka hatimu di rumah Nenek.”
Resha terkejut sekaligus senang, ia memang sering membayangkan bunga mawar putih di atas meja belajarnya, dan ia tempatkan di vas hijau favoritnya.
”Mmm..benarkah? Wah, terima kasih banyak, Nek!!”
Nenek itu mengangguk dan tersenyum ramah.
”Ayo, kita petik sekarang, kau bisa memilih dan memetik sesuka hatimu.”
”Baik..!!”

***
”Bagaimana, kau suka?”
”Suka banget, Nek! Makasih banyak ya Nek…”
”Sama-sama…Nenek senang melihatmu tersenyum begitu, tidak seperti tadi, kau terlihat sedang memendam masalah. Bukan begitu?”
”Kok Nenek tau?”
Nenek menghela nafas sejenak, menerawang jauh memandang ke arah kebun mawarnya. ”Nenek ini sudah tua, sudah banyak mengenal orang dan tiap peringainya. Seseorang bisa diketahui suasana hatinya dari raut wajahnya.”
Resha memandangi bunga-bunga mawarnya. Pikirannya kembali mengingat hari kemarin.
”Iya, saya merasa tak dihargai oleh keluarga, terutama oleh ibu, hanya karena nilai rapor yang tak memuaskan. Saya merasa bahwa usaha saya selama ini sia-sia, ibu hanya memandang dari satu sisi saja.”
Nenek itu mendengarkan dengan seksama, mengangguk-angguk pelan.
”Saya tahu perasaanmu. Pasti sakit rasanya tidak dihargai oleh orang yang paling kau hormati. Tapi mengertilah Nak Resha, nilai-nilai lain dalam dirimu yang kau punya harus kau jaga dan kau kembangkan, tak perduli apapun pendapat orang lain. Jangan mengharap pujian, karena pujian itu bisa menjatuhkanmu. Banyak orang yang terbuai oleh pujian, namun pada akhirnya jatuh karena tak bisa menjaga kualitas dirinya. Dari kritik yang kau peroleh, kau akan tahu apa yang salah dan apa yang benar, sehingga kau bisa bersikap yang seharusnya.”
Sekejap Resha merasa lega, kini ia mengerti bahwa tindakan ibunya tak sepenuhnya salah, ia hanya perlu melihat dari sisi yang lain.
”Terima kasih Nek, saya jadi merasa optimis lagi. Saya akan buktikan pada semuanya kalau saya bisa menunjukkan yang terbaik untuk mereka. Semua kritik yang saya terima akan saya gunakan sebagai alat untuk meningkatkan prestasi saya. Terima kasih ya Nek!”
”Semoga berhasil ya..Nenek titip salam untuk ibumu.”

***
”Darimana Sha?”
”Dari rumah nenek di ujung jalan itu, Bu. Resha boleh memetik bunga-bunga mawar putih ini, katanya.”
”Nenek yang mana? Kok Ibu ga pernah liat?”
”Ibu lupa, mungkin. Itu loh, rumah yang kebun mawarnya. Beliau kenal ko sama Ibu.”
”Mungkin yang kamu maksud Nenek Olivia? Beliau memang tinggal di situ…Tunggu dulu, bukannya Nenek Olivia itu sudah meninggal seminggu yang lalu?”
Resha terperanjat, bila nenek itu yang dimaksud, lalu siapa yang berbincang-bincang dengannya tadi pagi?
”Resha, kamu pasti bisa menunjukkan bahwa kamu yang terbaik…” sesaat ada bisikan lembut di telinga Resha. Suara Nenek Olivia. Resha mendongak ke arah langit biru. Ia temukan wajah Nenek Olivia dengan senyumnya yang tulus.